- PENDAHULUAN
Perbankan Indonesia telah mengalami perubahan orientasi sejak terjadi
deregulasi dan liberalisasi keuangan di Indonesia, yang sebelumnya
sangat represif. Sebelum tahun 1980-an, bank-bank masih merupakan
lembaga yang berorienatasi pada produk. Masyarakat yang membutuhkan
pelayanan bank akan dating dan mencari bank. Pelayanan bank masih
tradisional, bank masih menganut konsep menjual produk atau jasa,
pertimbangan kepuasan pelanggan/nasabah belum sepenuhnya menjadi
orientasi bank. Berbeda dengan kondisi setelah Paket Kebijakan Juni
(Pakjun) 1983, bank telah tumbuh spektakuler baik menyangkut jumlah
bank, cabang bank maupun jumlah produk/jasa yang ditawarkan ditunjang
pelayanan yang modern. Persaingan antara bank atau antar cabang bank
menjadi semakin tajam baik pada level inovasi produk, level harga
(bunga) maupun level pelayanan. Pelayanan sempurna, bahkan super
sempurna menjadi keharusan bagi bank memenangkan persaingan. Bank harus
menggeser orientasi produk ke orientasi nasabah.
Pelayanan yang sempurna dan pengembangan produk dan jasa yang
berkualitas pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kinerja
bank. Kinerja bank/tingkat kesehatan bank akan dicerminkan oleh aspek
pemenuhan modal minimum (Capital Adequacy Ratio/CAR), kualitas aktiva
produktif (asset quality), kesehatan manajemen (management), kemampuan
memperoleh laba (earning power), kemampuan memenuhi kewajiban segera
(liquidity) dan sensitivitas pasar (aspek risiko). Faktor-faktor
tersebut harus didukung oleh pemenuhan ketentuan moneter lainnya di
bidang perbankan misalnya Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) atau
Legal Lending Limit (LLL), Net Open Position (NOP), Ketentuan KUK dan
sebagainya.
Faktor-faktor dan komponen penentu kinerja bank tersebut harus
dikelola secara terus-menerus untuk menghasilkan kinerja yang
diinginkan. Untuk mengelola factor tersebut, harus didukung oleh
informasi yang tepat pakai (relevan), tepat waktu dan akurat serta
adanya kemampuan manajemen dalam mengambil keputusan yang tepat dan
akurat. Informasi yang tepat pakai, tepat waktu dan akurat bisa terwujud
kalau dikelola dengan baik. Untuk mengelola informasi tersebut
diperlukan pemahaman tentang karakteristik bank, keunikan bank dan
penggunaan akuntansi untuk mengelola informasi tersebut.
Secara umum karakteristik lembaga perbankan dapat dipahami sebagai berikut:
- Bank merupakan lembaga perantara keuangan antara pihak-pihak yang
memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana, serta
berfungsi untuk memperlancar lalu lintas pembayaran dengan berpijak pada
falsafah kepercayaan.
- Sebagai lembaga kepercayaan, bank harus selalu menjaga likuiditasnya
sehingga mampu memenuhi kewajiban yang harus segera dibayar.
Karakteristik ini mengisyaratkan bahwa bank harus memperhatikan sisi
sumber dananya.
- Bank selalu dihadapkan pada dilemma antara pemeliharaan likuiditas
atau peningkatan earning power. Kedua hal berlawanan dalam mengelola
dana perbankan. Artinya kalau menginginkan likuiditas tinggi maka
earning atau rentabilitas rendah dan sebaliknya. Dengan demikian bank
harus bisa menyikapi hal ini.
- Bank sebagai lembaga kepercayaan mempunyai kedudukan yang strategis untuk menunjang pembangunan nasional.
Karakteristik Khusus
- Sebagian aset bank adalah monetary assets ataupun alat-alat likuid
yang sifat fisiknya tidak tampak, sedangkan aktiva yang berwujud
nilainya relatif kecil.
- Obyek yang diperdagangkan adalah uang dan jasa yang bersifat abstrak, sehingga perlu adanya internal control yang ketat.
- Di dalam bank, uang berfungsi sebagai alat likuid.
- Perdagangan dan administrasi jenis mata uang relatif banyak.
- Dalam bertransaksi, bank mengandalkan kepercayaan masyarakat, kode rahasia, dokumen-dokemen dan sebagainya.
- Jumlah kantor cabang relatif banyak bahkan bisa di seluruh dunia.
- Lembaga perbankan selalu diatur secara ketat di manapun beroperasi.
Keunikan Bank
- Ada peran monitor to monitor. Artinya bank sebagai lembaga
perantara telah menghimpun dana dari deposan dan menempatkannya ke
kredit. Deposan akan memonitor bank dan bank akan memonitor debitur.
Dengan dukungan pengelolaan informasi yang baik, maka biaya informasi
untuk monitoring bagi deposan akan lebih rendah dibandingkan monitoring
langsung oleh deposan ke pengguna dana (debitur).
- Keputusan pemberian kredit kepada perusahaan tertentu akan direspon
positif oleh pasar. Perusahaan yang diberi kredit berarti perusahaan
yang sehat, maka saham perusahaan tersebut akan direaksi positif oleh
pasar. Keunikan ini tidak dimiliki oleh lembaga bisnis lainnya.
- Mampu memerankan transfer kekayaan dari yang tua ke yang muda
(intergenerational wealth transfer). Generasi tua sudah pensiun suka
menabung atau tidak produktif lagi, sedangkan generasi muda masih giat
berusaha. Yang muda menggunakan dana generasi tua untuk kepentingan yang
produktif melalui perantara bank.
- Dapat bertindak sebagai asset transformer. Bank bisa menerbitkan
klaim keuangan berupa surat berharga obligasi, deposito dan lainnya
kemudian ditempatkan dalam bentuk kredit atau yang lain.
Dengan memperhatikan karakteristik dan keunikan bank, maka dapat
dipastikan bahwa pengelolaan informasi untuk pengambilan keputusan
sangat diperlukan. Untuk mengelola informasi diperlukan akuntansi.
Dengan akuntansi, informasi dapat disajikan tepat waktu dan relevan
untuk pengambilan keputusan. Dalam akuntansi, konsistensi metode, teknik
dan prinsip tetap dipeihara untuk keseragaman persepsi. Keseragaman
persepsi akan membuat akuntansi tidak hanya dapat digunakan untuk
kepentingan internal, namun juga pihak-pihak eksternal yang membutuhkan
informasi akuntansi.
Buku ajar ini akan memaparkan Akuntansi Perbankan Dalam Transaksi
Rupiah secara teoritis maupun aplikasinya dalam perspektif manual.
Penguasaan teori dan aplikasi secara manual akan sangat membantu dalam
praktik, bahkan praktik yang didukung oleh alat berupa software tertentu
pada lembaga perbankan.
- URAIAN MATERI
- Pengertian Akuntansi
Pengertian akuntansi menurut
Committee on terminology of the American Institute of Certified Public Accountants bahwa
akuntansi adalah seni mencatat, menggolongkan dan mengikhtisarkan
transaksi dan peristiwa yang paling tidak sebagian bersifat keuangan
dengan suatu cara yang bermakna dan dalam satuan uang, serta
menginterpretasikan hasil-hasilnya. Akhir-akhir ini akuntansi selain
dipandang sebagai seni, juga dipandang sebagai bahasa dunia usaha, yaitu
sebagai sarana untuk mengkomunikasikan informasi tentang suatu
perusahaan.
Akuntansi juga bisa didefinisikan sebagai konsep informasi maupun
sebagai sistem informasi. Sebagai konsep informasi, akuntansi merupakan
kegiatan jasa yang menyediakan informasi kuantitatif tertutama yang
bersifat keuangan, tentang kesatuan-kesatuan ekonomi yang dimaksudkan
agar bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, dalam menetapkan
pilihan yang pantas di antara berbagai alternatif tindakan. Sedangkan
sebagai sistem informasi, akuntansi merupakan proses yang menjalin
sumber informasi, saluran komunikasi dan seperangkat penerima. Pandangan
ini menekankan pada konseptual dan empiris. Artinya, pertama
diasumsikan bahwa sistem akuntansi adalah satu-satunya sistem pengukuran
yang formal bagi suatu organisasi. Kedua bahwa pandangan ini
menimbulkan kemungkinan perancangan suatu sistem akuntansi secara
opsional yang mampu menyediakan informasi yang berguna bagi semua
pemakai. Ketiga adalah menekankan pentingnya Akuntan sebagai pengirim
akuntansi dan pemakai (penerima akuntansi).
Jadi, secara umum akuntansi bisa didefinisikan sebagai seni, ilmu,
sistem informasi yang didalamnya menyangkut pencatatan,
pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan cara sepatutnya dan dalam
satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian
mempunyai sifat keuangan serta adanya penginterpretasian hasil
pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan.
- Kerangka Konseptual Akuntansi
Kerangka konseptual akuntansi adalah suatu sistem pertalian yang erat
(koheren) dari tujuan dan konsep-konsep dasar yang saling berhubungan
dan saling mengarahkan terciptanya prinsip-prinsip yang konsisten serta
menggambarkan sifat, fungsi dan keterbatasan akuntansi beserta laporan
keuangan. Sebagai konsep, tentu akan memberikan manfaat bagi
perkembangan akuntansi atau sebaliknya perkembangan akuntansi yang
memberikan manfaat bagi konsep dasar akuntansi. Oleh karena itu dalam
menghadapi persoalan akuntansi hendaknya dapat dikembalikan pada konsep
dasarnya.
Dengan kerangka konseptual akuntansi akan dapat dirumuskan
prinsip-prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagi para pemakai
informasi akuntansi dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktik
akuntansi. Di samping itu, sebagai kerangka dasar setiap perubahan
ataupun perkembangan akuntansi sulit dipecahkan, maka harus dilandasi
kerangka konseptual ini dalam setiap memecahkan masalah-masalah yang
berkembang dan berkaitan dengan akuntansi tersebut.
Dengan kerangka konseptual juga akan dihasilkan tujuan dan
dasar-dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan. Dengan demikian
hal ini akan memudahkan para pemakai dalam memahami tujuan, isi dan
karakteristik informasi yang dihasilkan oleh akuntansi.
Kerangka konseptual akuntansi juga akan memberikan pedoman untuk
memilih alternatif yang mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi
dengan cara yang paling akurat dalam lingkungan tertentu. Setiap jenis
usaha mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga informasi yang
dihasilkanpun berbeda. Padahal untuk menilai aktivitas diperlukan
keseragaman persepsi mengenai informasi tersebut. Sehingga peran pemasok
informasi harus dapat mengembangkan dan bersikap profesional agar
informasi yang diperlukan oleh pengambil keputusan tidak menyesatkan.
Dengan demikian kerangka konseptual akuntansi sangat berguna dalam
menyajikan informasi yang dapat diterima oleh semua pihak dalam berbagai
lapangan usaha.
Kerangka konseptual akuntansi dibagun dari tiga tingkatan. Tingkatan
pertama adalah tujuan pokok akuntansi, tingkatan kedua adalah konsep
dasar pelapaoran yang terdiri dari karakteristik informasi dan elemen
laporan keuangan. Tujuan pokok dan konsep dasar pelaporan tersebut
selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga yaitu menyusun pedoman
pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini harus memperhatikan asumsi, prinsip
dan kendala.
Tujuan Pokok Akuntansi
Tujuan pokok akuntansi adalah tujuan umum laporan keuangan yaitu
memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi
para pemakainya. Untuk dapat menyampaikan informasi tersebut harus
menggunakan alat atau media berupa laporan keuangan. Secara khusus
laporan keuangan harus mencapai tujuan memberikan informasi keuangan
yang dapat dipercaya mengenai posisi aktiva, hutang dan modal beserta
perubahannya, sehingga dapat digunakan untuk menaksir prospek arus kas,
kondisi keuangan, prestasi dan potensi perusahaan atau bank dalam
menghasilkan laba. Di samping itu dapat menjelaskan bagaimana dana
diperoleh dan digunakan.
Tujuan laporan keuangan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh
pengambil keputusan. Ini berarti tujuan tersebut dapat saja berubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan pemakai, situasi dan kondisi ekonomi, politik,
hukum maupun aspek lingkungan bisnis. Tetapi yang tidak boleh dilupakan
bahwa laporan keuangan tersebut disusun dalam konteks untuk memuaskan
atau memenuhi kebutuhan semua pemakai yang berbeda-beda atau bersifat
umum. Kalau demikian, maka kelompok pemakai tertentu tidak mempunyai hak
untuk menentukan jenis informasi tertentu. Para pemakai laporan
keuangan dituntut untuk mengetahui karakteristik perusahaan dan
pengetahuan akuntansi agar dapat memahami informasi dalam laporan
keuangan.
Konsep Dasar Pelaporan
Konsep dasar pelaporan merupakan penghubung antara pedoman
pelaksanaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konsep ini harus
mampu menjelaskan karakteristik atau mutu informasi dan elemen-elemen
yang akan disajikan dalam laporan keuangan sehingga fungsi akuntansi
sebagai penyedia jasa informasi dapat menentukan kepada siapa informasi
tersebut ditujukan, tipe-tipe informasi yang dibutuhkan dan bagaimanakah
karakteristik informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian tujuan untuk
memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak dapat dipenuhi.
- a. Karakteristik Mutu Informasi Akuntansi.
Pemilihan metode akuntansi, tipe informasi dan format informasi yang
diperlukan akan menentukan nilai kegunaan informasi bagi pengambil
keputusan. Untuk itu informasi yang disajikan harus informasi yang baik
dan memberikan manfaat yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan
untuk memperoleh/menyajikan informasi tersebut. Beberapa alternatif
laporan yang dapat disajikan juga harus menjadi pertimbangan misalnya
pos-pos yang harus dikapitalisasikan sebagai aktiva atau sebagai
kewajiban (pasiva), pendapatan dan biaya serta komitmen & kontijensi
(khusus untuk lembaga perbankan) yang harus disajikan dalam periode
pelaporan tersebut dan ukuran yang digunakan dalam menyajikannya. Untuk
ukuran ini misalnya berupa biaya historis, nilai sekarang atau nilai
buku. Informasi-informasi tersebut harus berhubungan dengan tipe
keputusan yang akan diambil oleh pemakai informasi. Untuk dapat
menghubungkan informasi tersebut, para pemakai harus mengerti informasi
yang disajikan. Pemakai harus dapat merasakan kadar kemampuan dan arti
pentingnya informasi yang diterimanya.
Informasi yang dapat dimengerti adalah informasi yang mempunyai sifat
relevansi dan reliabilitas, memiliki daya banding dan konsisten. Pola
hubungan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengambil
keputusan tercermin dalam hirarki kualitas informasi akuntansi.
a.1. Relevansi Informasi Akuntansi
Kualitas primer suatu informasi akuntansi ditentukan oleh relevansi
dan reliabilitasnya. Relevansi ini dapat diukur melalui maksud
penggunaan informasi tersebut. Dengan demikian relevansi berarti memilih
metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai
laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan.
Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada.
Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan
pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan
mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan.
Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada.
Dengan demikian relevansi selalu dikaitkan dengan
feedback dan
nilai prediktif dari informasi tersebut. Kiat pengambil keputusan tidak
merasa diperkuat atau diperlemah oleh informasi yang disajikan, maka
informasi itu bisa dikatakan tidak mengandung relevansi. Sebaliknya bila
pengambil keputusan dapat memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang
bakal timbul di kemudian hari atas dasar informasi, maka informasi
tersebut dikatakan relevan.
Informasi juga bisa dikatakan relevan kalau disajikan tepat waktu.
Sebab informasi yang basi atau disampaikan tidak tepat waktu akan tidak
ada gunanya bagi pengambil keputusan. Dengan kata lain informasi
tersebut tidak relevan.
a.2. Reliabilitas Informasi Akuntansi.
Informasi yang disampaikan harus andal, dalam arti bebas dari
pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat dipercaya
pemakainya yaitu telah disajikan dengan benar dari yang seharusnya
disajikan atau secara wajar diharapkan dapat disajikan, sehingga
mencerminkan secara tepat mengenai keadaan atau peristiwa ekonomi yang
akan disampaikan. Reliabilitas atau keandalan tidak sama dengan
keakuratan secara absolut. Informasi-informasi yang disampaikan bisa
saja didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang didalamnya tidak lepas
dari estimasi, dan estimasi tersebut tidak akan tepat secara total atau
eksak, namun begitu informasi masih mengandung keandalan untuk
digunakan. Keandalan informasi ini dapat ditentukan oleh daya uji atau
uji kebenarannya, bersifat netral atas dasar pertimbangan sehat serta
harus lengkap dan ada ketepatan dalam penyajian. Ketepatan dalam
menyajikan (jujur) merupakan kesesuaian antara informasi yang dilaporkan
dengan hasil-hasil aktual dari aktivitas ekonomi yang diukurnya.
a.3. Komparabilitas atau Daya Banding
Informasi akan semakin bermanfaat apabila dapat dikaitkan dengan
standar ukuran tertentu. Standar ukuran ini menjadikan informasi dapat
diperbandingkan. Perbandingan dapat dilakukan terhadap data dari periode
yang berbeda dalam satu perusahaan, atau dapat pula terhadap data atau
informasi dari perusahaan lain yang sejenis pada periode yang sama.
Perbandingan ini untuk mengidentifikasikan kecenderungan atau tren
posisi dan kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan baik secara
absolut maupun relatif. Oleh karena itu pengukuran dan penyajian
informasi keuangan dari transaksi atau peristiwa lain yang serupa harus
dilakukan secara konsisten. Konsisten di sini artinya taat azas dan
menggunakan metode serta prinsip akuntansi yang sama. Namun demikian
perlu diingat bahwa keseragaman tidaklah selalu menjawab komparabilitas
(Jay M. Smith dan Fred Skoisen). Dalam kenyataannya, praktik akuntansi
pada lingkungan yang berbeda mungkin akan membutuhkan perlakuan yang
berbeda pula, sehingga masalah besar dalam akuntansi yang menerima
berbagai alternative metode akuntansi dewasa ini dalam situasi yang
tidak begitu berbeda belum memadai untuk membenarkan praktik akuntansi
yang berbeda-beda.
a.4. Konsistensi
Seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa untuk menyajikan informasi
keuangan atau akuntansi dihadapkan pada berbagai alternatif metode
akuntansi. Oleh sebab itu agar informasi akuntansi bermanfaat,
penggunaan metode akuntansi harus konsisten agar keberlangsungan dan
kekomparabelan laporan keuangan tercapai.
- b. Elemen-elemen Laporan Keuangan.
Elemen pokok laporan keuangan terdiri dari aktiva, hutang, modal,
pendapatan dan biaya. Tugas akuntansi adalah untuk mengikuti, mengukur
dan mengkomunikasikan perubahan-perubahan dan perkembangannya. Elemen
pokok ini telah berlaku umum di dunia usaha dan setiap elemen saling
terkait dengan elemen.
b.1. Aktiva adalah manfaat ekonomi yang dinyatakan
untuk sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang meliputi
barang dan hak-hak yang memberikan manfaat di masa yang akan dating dan
didapat dari transaksi-transaksi atau peristiwa yang terjadi di masa
lalu.
b.2. Hutang atau kewajiban adalah pengorbanan sumber
ekonomis yang mungkin di masa yang akan datang yang timbul dari
kewajiban entitas tertentu pada saat ini untuk menyerahkan aktiva atau
memberikan jasa kepada entitas yang lain di masa mendatang sebagai
akibat dari transaksi atau peristiwa di masa lampau.
b.3. Modal adalah jumlah uang yang dinyatakan untuk sisa hak atas aktiva perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Modal merupakan hak atas aktiva perusahaan yang melekat pada pemiliknya.
b.4. Pendapatan adalah jumlah kotor dari kenaikan
aktiva atau penurunan kewajiban (atau kombinasi keduanya). Pendapatan
timbul dari aktivitas penjualan barang atau jasa, penyerahan jasa dan
aktivitas lainnya yang mengakibatkan diperolehnya pendapatan atau laba
bagi perusahaan.
b.5. Biaya adalah jumlah kotor dari penurunan
aktiva atau kenaikan kewajiban. Biaya ini timbul dari kegiatan-kegiatan
pembuatan atau pengadaan barang dan jasa, dan lain-lain kegiatan usaha
untuk memperoleh pendapatan dalam suatu periode.
b.6. Laba adalah selisih lebih antara pendapatan di atas biaya dalam suatu periode, dan disebut rugi apabila terjadi sebaliknya.
- Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi adalah dalil doktrin untuk mengawasi suati sistem
atau aktivitas tertentu yang telah diterima kebenarannya. Prinsip
akuntansi bukan merupakan kebenaran yang hakiki dalam bidang akuntansi,
karena pada hakekatnya akuntansi selalu berkembang dan selalu berubah
sesuai dengan perkembangan dan perubahan nilai-nilai yang terjadi di
masyarakat. Prinsip akuntansi dapat bersifat tertulis maupun tidak
tertulis sebagai akibat yang timbul dari pengalaman yang dapat digunakan
sebagai pedoman dalam menyajikan informasi keuangan.
Prinsip akuntansi dibutuhkan dalam kondisi yang selalu berubah,
mengingat akuntansi tidak membuat diskriminasi dengan menyelenggarakan
aktivitas-aktivitas yang secara khusus diarahkan untuk memenuhi pihak
tertentu, akan tetapi informasi yang disajikan adalah relevan dengan
kepentingan dan memuaskan berbagai pihak yang menggunakannya. Bila
informasi keuangan yang disajikan tidak memenuhi kepuasan berbagai pihak
berarti laporan keuangan tersebut sebagai media penyampaian informasi
telah gagal. Ini disebabkan karena pertama telah kehilangan fungsinya
sebagai aktivitas penyedia jasa, kedua gagal untuk memenuhi fungsinya
sebagai suatu sistem informasi, dan ketiga akuntansi tersebut telah
kehilangan maknanya sebagai suatu fungsi analisis. Oleh karena itu
penggunaan prinsip akuntansi menjadi sangat penting agar ada kesamaan
dalam hal cara, metode, prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi
yang relevan, bersifat netral, dan dapat diperbandingkan.
Prinsip-prinsp tersebut adalah:
- Prinsip Harga Perolehan
Prinsip ini ditekankan bahwa aktiva, hutang, modal, penghasilan dan
biaya hendaknya dicatat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh
kedua belah pihak yang bertransaksi. Penggunaan prinsip ini didasari
bahwa harga tersebut ditentukan secara obyektif, jumlahnya sudah
diketahui dan dapat diuji kebenarannya melalui bukti-bukti transaksi.
Pengukuran harga historis adalah melalui jumlah kas atau yang ekuivalen.
- Prinsip Realisasi Penghasilan
Prinsip ini mencakup pengertian, pengukuran dan pengakuan
penghasilan. Penghasilan adalah setiap pertambahan aktiva atau penurunan
hutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa selama periode
akuntansi tertentu. Pengukuran penghasilan dapat ditentukan melalui
jumlah kas atau ekuivalennya, jumlah aktiva yang diterima dan jumlah
penurunan hutang. Kemudian pengakuan penghasilan pada prinsipnya
berdasarkan realisasi penghasilan. Realisasi penghasilan dapat
ditentukan berdasarkan justifikasi bahwa barang atau jasa telah tersedia
dan jumlahnya sudah diketahui secara pasti.
Dalam kaitannya dengan pengakuan penghasilan, maka timbul beberapa metode pengakuan penghasilan yaitu:
Pertama pada saat penjualan barang atau jasa. Bila penjualan barang
dan jasa sudah tersedia dan dapat diukur secara pasti, maka metode ini
dapat diterapkan. Contoh pada lembaga perbankan ketika memberikan
kredit, maka saat komitmen direalisasi seluruh pendapatan non bunga
(provisi, administrasi, biaya transaksi dll) dari kredit tersebut
langsung dicatat sebagai pendapatan.
Kedua adalah pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum
melakukan penjualan. Metode ini dapat digunakan kalau pemasaran barang
dan jasa sudah terjamin misalnya sudah adanya kontrak/perjanjian
tertentu dengan pihak lain, kemudian harganya sudah relatif pasti dan
sebagian besar kegiatan untuk memperoleh penghasilan dimaksud sudah
dilaksanakan. Contoh dalam transaksi
call option.
Ketiga adalah pengakuan penghasilan didasarkan pada saat penerimaan
kas. Metode ini dapat dilakukan kalau resiko terjadinya piutang tidak
tertagih atau jangka waktunya relatif lama. Metode ini digunakan bank
terutama bila mengakui pendapatan bunga yang berasal dari kredit
bermasalah atau bahkan macet. Untuk kredit macet, pendapatan bunga tidak
akan diakui menjadi rekening nominal (pendapatan bunga) sebelum
benar-benar direalisasi.
- Prinsip Mempertemukan Pendapatan dan Biaya
Prinsip ini menyatakan bahwa hasil aktivitas perusahaan selama
periode tertentu yang diuangkan dalam laporan keuangan merupakan hasil
dalam periode yang sama. Pendapatan dan biaya harus sesuatu hal yang
terjadi dalam waktu yang sama. Untuk dapat mempertemukan pendapatan dan
biaya dalam periode yang sama maka diperlukan metode pengakuan
pemdapatan dan biaya. Pengakuan tersebut bisa menggunakan dasar waktu (
accrual basis).
- Prinsip Obyektif.
Prinsip ini memberikan pengertian bahwa laporan keuangan yang
dihasilkan haruslah didasarkan pada data akuntansi yang didukung oleh
bukti-bukti transaksi yang obyektif. Bukti transaksi yang obyektif dapat
diperoleh bila transaksi yang dilakukan berdasarkan kesepakatan antara
pihak-pihak yang bertransaksi, serta didukung oleh pengawasan dan
pengendalian intern yang baik.
- Prinsip Pengungkapan Penuh.
Laporan keuangan hendaknya dapat memberikan semua informasi baik yang
bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang dapat mempengaruhi
interpretasi dan pengambilan keputusan para pemakainya. Untuk mencapai
ini maka laporan keuangan harus disusun secara baik sesuai dengan
standar akuntansi yang disepakati umum, menggunakan istilah-istilah yang
tepat, memberikan catatan tambahan, memberikan lampiran, catatan kaki
dan sebagainya.
Prinsip ini mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut harus
mempunyai daya banding.
- Prinsip Konsistensi
Daya banding ini perusahaan-perusahaan yang sama
dalam periode yang berbeda atau dalam perusahaan yang berbeda untuk
periode yang sama. Daya banding laporan keuangan akan ditentukan oleh
konsistensi penggunaan teori, metode, dasar, pedoman dan praktik
akuntansi yang sama dengan yang diterapkan sebelumnya. Konsistensi pada
kasus tertentu ada metode yang tidak cocok dengan kondisi saat ini, maka
perusahaan dapat mengganti metode tersebut asalkan perusahaan
menjelaskan tentang perubahan metode tersebut dan pengaruh penggunaan
metode tersebut terhadap angka-angka dalam laporan keuangan.
- Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi
Konsep merupakan pernyataan yang tidak perlu dibuktikan atau
merupakan aksioma yang diterima secara umum karena sesuai dengan tujuan
laporan keuangan dan menggambarkan sifat kesatuan akuntansi dari sebuah
perusahaan. Konsep-konsep akuntansi yang digunakan dalam lingkungannya
akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kondisi sosial,
kondisi ekonomi, politik dan sebagainya. Konsep ini dapat juga dikatakan
sebagai asumsi dasar dalam akuntansi. Asumsi dasar ini terutama dalam
menyusun prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi disusun dengan
memperhatikan tujuan laporan keuangan, keadaan perekonomian, keadaan
politik, perundang-undangan dan sebagainya yang berkaitan dengan dunia
usaha. Bisa saja terjadi perbedaan perumusan konsep dasar akuntansi
antara pakar yang satu dengan pakar yang lain karena faktor-faktor
tersebut. Bahkan sering terjadi sulit membedakan antara konsep dengan
prinsip akuntansi.
Konsep dasar akuntansi antara lain meliputi:
- Kesatuan Usaha
Dalam konsep ini diasumsikan bahwa perusahaan merupakan kesatuan
usaha yang terpisah dengan pemiliknya dan akuntansi memandang dari segi
perusahaannya. Laporan keuangan yang disusun adalah laporan keuangan
perusahaan, bukan laporan keuangan pemilik. Adanya pemisahan ini
merupakan faktor utama yang dijadikan pertimbangan untuk membebankan
pada kesatuan ekonomi tersebut yaitu kewajiban mempertanggungjawabkan
keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Batas
entitas akuntansi/ usaha tidak harus sama dengan batas hukumnya.
Misalnya perusahaan induk dengan perusahaan anak merupakan entitas hokum
tersendiri, namun secara akuntansi bukan merupakan penyimpanan bila ada
penggabungan aktivitas perusahaan untuk tujuan akuntansi dan pelaporan.
- Kesinambungan / going concern
Konsep ini menjelaskan bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu
yang tidak terbatas dan akan berlangsung secara terus-menerus. Asumsi
ini akan memberikan dukungan yang kuat untuk penyajian aktiva
berdasarkan harga perolehannya dan bukan atas dasar nilai kontan aktiva
tersebut atau nilai yang direalisasikan pada saat likuidasi.
- Periode Akuntansi
Konsep ini menjelaskan bahwa rugi dan laba perusahaan baru dapat
diketahui setelah perusahaan dilikuidasi atau dengan kata lain bahwa
tingkat kesuksesan suatu perusahaan hanya dapat diketahui pada saat
perusahaan menghentikan usahanya dan mencairkan seluruh hartanya menjadi
kas. Pada kenyataannya, keputusan manajemen banyak dilakukan selama
berlangsungnya kegiatan perusahaan. Untuk mengambil keputusan ini perlu
ada informasi. Disinilah laporan keuangan perlu disusun sebagai sumber
informasi. Penyusunan laporan keuangan periodik ini beranggapan bahwa
umur kegiatan perusahaan yang tidak terbatas tersebut pada dasarnya
merupakan rangkaian kegiatan perusahaan dari beberapa periode.
Bagian-bagian periode dari periode yang tidak terbatas ini selanjutnya
disebut periode akuntansi.
- Pengukuran Dalam Nilai Uang
Penyelenggaraan akuntansi beranggapan bahwa mata uang adalah alat
pengukur yang berlaku umum terhadap semua kegiatan ekonomi. Penggunaan
satuan mata uang (rupiah) didasarkan pemahaman bahwa mata uang mempunyai
nilai yang tetap (
stable of price). Bila asumsi ini tidak dipenuhi maka fungsi laporan keuangan sebagai media informasi akan berkurang nilainya.
- Penetapan Beban dan Pendapatan
Penentuan laba periodik dan posisi keuangan dilakukan berdasarkan
metode akrual, yaitu dikaitkan dengan pengukuran aktiva dan kewajiban
serta perubahannya pada saat terjadinya, bukan hanya sekedar pencatatan
penerimaan dan pengeluaran uang. Penentuan laba periodik menyangkut dua
masalah yaitu: pengakuan pendapatan selama periode dan penentuan beban
yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk menghasilkan pendapatan
tersebut.
- Kendala atau Keterbatasan Akuntansi
Informasi yang disajikan harus memiliki karakteristik mutu. Tetapi
untuk menyajikan seperti ini akan dihadapkan pada kendala-kendala.
Kendala tersebut dapat dikelompokkan menjadi kendala primer dan kendala
sekunder misalnya azas konservatif dan keterbatasan dalam dunia usaha.
Kendala sekunder ini tidak begitu penting, namun perlu dipertimbangkan
dalam menyajikan informasi akuntansi.
- Azas manfaat dan Biaya
Untuk mengumpulkan, mengolah dan melaporkan informasi akuntansi
diperlukan biaya. Para pemakai harus mempertimbangkan biaya untuk
menghasilkan informasi tersebut. Kesulitannya adalah tidak semua manfaat
informasi dapat diukur atau dibuktikan. Manfaat informasi tersebut
dapat dirasakan oleh pihak penyaji dalam bentuk efisiensi pengendalian
dan oleh para pemakai dalam bentuk alokasi sumber-sumber ekonomi, jumlah
pajak yang dibayar, ketaatan terhadap regulasi. Semua ini kadang sulit
dikuantitatifkan. Sedangkan biaya untuk pengadaan informasi umumnya
mudah dikuantitatifkan.
- Azas Materialitas.
Kerangka teoritis / konseptual akuntansi memang sangat kompleks,
namun dalam penyajiannya harus praktis. Dalam arti hal-hal yang tidak
berpengaruh terhadap aktivitas usaha harus dikeluarkan dari
laporan/catatan akuntansi. Azas ini mengemukakan bahwa
transaksi-transaksi dan lain-lain peristiwa yang tidak penting / kurang
berarti terhadap kegiatan ekonomi perusahaan adalah tidak harus
diperlakukan secara konsekuen dengan prinsip-prinsip akuntansi.
Perlakuan seperti ini dapat diterima karena informasi yang tidak
materialitas tidak cukup berarti atau tidak dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi para pemakainya.
Kesulitan mengukur materialitas menjadi kendala, mengingat materialitas sangat
tergantung pada pemakainya. Dengan demikian perlu adanya batasan
bahwa suatu item dalam hubungannya dengan laporan keuangan dianggap
material kalau mempunyai akibat-akibat yang cukup berarti dalam
pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan laporan keuangan
tersebut. Di sini harus dipahami bahwa item/transaksi dianggap material
itu tidak dapat ditentukan atau diukur hanya berdasarkan item itu
sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan item yang lain yang saling
berhubungan.
- Azas Konservatif
Azas ini erat kaitannya dengan risiko ketidakpastian di masa yang
akan datang. Azas ini mencerminkan kehati-hatian dalam hal mengakui
adanya pendapatan dan biaya sehingga terhindar dari kemungkinan risiko
yang akan timbul di masa yang akan datang. Perusahaan dalam menghadapi
berbagai alternatif harus melaporkan berdasarkan alternatif yang
memberikan keuntungan terkecil. Apabila dalam aktiva terdapat berbagai
penilaian, maka nilai aktiva yang paling rendah harus diakui, sebaliknya
bila dalam hutang terdapat dua atau lebih alternative jumlahnya, maka
jumlah hutang yang paling besar yang dicatat. Begitu pula bila dalam
pendapatan dan biaya terdapat berbagai alternative, maka harus dipilih
pendapatan dan biaya yang akan mengakibatkan laba periodic paling
rendah.
Dalam kaitannya dengan pengakuan dan penilaian pada azas ini terdapat empat macam yaitu:
- Pengakuan dan penilaian penghasilan. Dalam hal ini penghasilan harus
diakui pada saat realisasinya. Penghasilan adalah setiap nilai yang
menambah aktiva. Untuk itu sangat erat dengan penilaian aktiva yang
tidak boleh melebihi harga perolehannya. Dengan demikian penghasilan
tidak boleh diantisipasi terlalu besar atau terlalu kecil.
- Dalam hubungannya dengan pengakuan biaya, maka biaya harus
dibebankan pada periode akuntansi sesuai dengan periode pengakuan
penghasilan yang diperoleh dengan biaya tersebut.
- Dalam hubungannya dengan laba, maka laba harus diakui pada saat realisasi.
- Dalam hubungannya dengan pengakuan kerugian, menurut asas ini bahwa
perusahaan harus sudah mengakui semua kerugian dan hutang yang diketahui
baik yang sudah pasti maupun yang belum pasti. Dalam hal terjadinya
hutang ataupun kerugian yang belum pasti maka disebut hutang taksiran
yang biasanya ditampung dalam rekening kontijensi.
Azas ini dapat diterima dalam praktik akuntansi, namun bila
diterapkan secara berlebihan akan mengakibatkan kesalahan dalam
penyajian laba/rugi periodic. Untuk itu harus digunakan secara wajar dan
tidak benar digunakan untuk menghindari regulasi-regulasi(terutama di
lembaga perbankan) misalnya untuk perpajakan, penyisihan aktiva
produktif dll. Keberadaan azas ini sebenarnya didasari pemikiran bahwa
dalam hal jumlah yang seharusnya tidak dapat ditentukan, akan lebih baik
bila menyampaikan kepada para pemakai untuk jumlah yang terkecil di
antara yang benar.
- Kebiasaan-kebiasaan Dalam Dunia Bisnis
Dalam praktik akuntansi secara nyata lebih menginginkan kepraktisan
dan aspek kegunaan, sehingga sering dijumpai penyimpangan-penyimpangan
terhadap prinsip-prinsip akuntansi. Hal ini masih bisa diperkenankan
karena setiap usaha mempunyai karakteristik dan spesifikasi tersendiri.
Badan usaha tersebut tidak selalu menerapkan akuntansi secara
konseptual. Hal ini menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan informasi
yang sesuai dengan karakteristik mutu pelaporan.
- Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan
Dalam memahami proses akuntansi, ada baiknya untuk memahami persamaan
dasar akuntansi. Persamaan dasar akuntansi dibangun pemahaman antara
hak dan kewajiban. Hak merupakan kekayaan atau aktiva atau asset. hak
ini ada karena telah timbul kewajiban. Konsep akuntansi menghendaki
keseimbangan antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu setiap
pertambahan kewajiban bank, harus diikuti peningkatan hak atau asset.
Secara umum persamaannya adalah:
Hak = Kewajiban
Aktiva = Pasiva
Kewajiban bank terdiri dari kewajiban terhadap pihak eksternal dan
kewajiban terhadap pihak internal. Kewajiban kepada pihak eksternal
adalah kewajiban kepada kreditor atau pemberi dana atau deposan.
Sedangkan kewajiban terhadap internal adalah kewajiban kepada pemilik
modal. Dengan demikian persamaan dapat diperluas menjadi:
Aktiva = Hutang + Modal
Bila bank melakukan aktivitas, akan memperoleh pendapatan dan
mengeluarkan biaya. Selisih Pendapatan dengan biaya merupakan laba bank.
Laba bank merupakan komponen modal bank. Untuk itu persamaannya
menjadi:
Aktiva = Hutang + Modal + Pendapatan – Biaya
Atau,
Aktiva + Biaya = Hutang + Modal + Pendapatan
Keterangan:
Pada sisi kiri terdapat aktiva dan biaya, sedangkan pada sisi kanan
terdapat Hutang, Modal dan Pendapatan. Persamaan ini akan mempermudah
bagi pemula dalam membuat jurnal.
Dengan persamaan dan penggambaran rekening buku besar, maka dapat disimpulkan bahwa:
- Setiap pertambahan aktiva akan didebet, dan pengurangan aktiva akan dikredit.
- Setiap pertambahan biaya akan didebet, setiap pengurangan biaya akan dikredit.
- Setiap peningkatan hutang akan dikredit dan setiap pengurangan/pelunasan hutang akan didebet.
- Setiap pertambahan modal akan dikredit dan penurunan modal akan didebet.
- Setiap pertambahan pendapatan bank akan dikredit dan setiap penurunan pendapatan akan didebet.
Aktiva bank misalnya berupa kas, giro BI, penempatan pada bank lain,
sekuritas jangka pendek, kredit yang diberikan, penyertaan dan aktiva
tetap. Hutang bank misalnya giro nasabah, tabungan, deposito, pinjaman
diterima, sedangkan modal berupa modal disetor maupun laba ditahan.
Untuk pendapatan bank bisa berupa pendapatan bunga dan pendapatan
lainnya. Sedangkan biaya bank berupa biaya bunga dan biaya lainnya.
- Sistematika Rekening Bank
Penggunaan nama, struktur dan hubungan antar rekening perlu ada
keseragaman agar laporan yang dihasilkan mudah dipahami dan mudah
diperbandingkan. Untuk itu sistematika rekening perbankan diperlukan.
Sistematika rekening bank disusun dengan menggunakan digit tertentu.
Digit pertama berisi rubric rekening, digit kedua berupa identifikasi
jenis valuta, digit ketiga berisi kelompok rekening group. Digit keempat
berisi kelompok rekening subgroup dan digit ke lima dan seterusnya
berisi berupa rincian atau rekening individual.
Contoh secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
1 0 6 2 1
Keterangan:
Mulai dari kiri 1 = Aktiva
0 = Aktiva Dalam Rupiah
6 = Kredit yang Diberikan
2 = Pihak Tidak Terkait Dengan Bank
1 = Rekening Individual
Pengelompokan rekening selanjutnya didasarkan pada sifat dan fungsi
rekening. Pengelompokan ini dimaksudkan agar dapat menggambarkan posisi
aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, beban, komitmen dan kontijensi.