Sabtu, 27 September 2014

Sistem Akuntansi di Perbankan

Sistem Akuntansi di Perbankan


  Dalam menyusun system akuntansi perbankan kita harus mengetahui lebih dahului seluruh kegiatan bank ,informasi apa saja yang diperlukan,teknik-teknik pengolahan data yang digunakan,pihak-piahk mana yang memerlukan informasi, proses dan prosedur pengolahan data dan pengawasannya dapat dihasilkan informasi keuangan bank yang akurat , efektif, dan efisien serta memenuhi harapan semua pihak, baik manejemen, pemilik, pemerintah/pengawas bank maupun masyarakat pengguna jasa bank.


 Atas dasar hal tersebut diatas, maka untuk usaha industri perbankan perlu dirancang dan disusun system akuntansi perbankan yang baik dapat mengakomodasi semua kepentingan tersebut, sehingga ikatan akuntansi Indonesia(IAI) bekerjasama dengan bank Indonesia mengeluarkan standar akuntansi yang khusus mengatur usaha perbankan yakni diterbitkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 30 pada tanggal 7 september 1994.

Laporan keuangan bank harus disajikan dalam mata uang rupiah.dalam hal bank memiliki aktiva, kewajiban dan komitmen serta kontijensi dalam valuta asing, semua itu harus dijabarkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah yang berlaku pada tanggal laporan. Modal yang disetor dalam valuta asing perlu dijabarkan dengan menggunakan konversi bank Indonesia pada saat modal tersebut disetor.

1.    Laporan keuangan bank.
   Bentuk pertanggung-jawaban pemimpin perusahaan adalah berupa ikhtisar keuangan yang biasanya terdiri dari neraca, perhitungan laba/rugi, laba ditahan, perubahan posisi keuangan .Laporan kuangan perusahaan bank sama saja dengan laporan keuangan perusahaan lainnya.Neraca bank memperlihatkan gambaran posisi keuangan suatu bank pada suatu saat tertentu.Ikhitisar laba/rugi memperlihatkan kegiatan operasional suatu bank selama suatu periode tertentu.Ikhtisar peerubahaan posisi keuangan memperlihatkan dari mana saja pendanaan bank dan ke mana saja dana yang telah diserapnya disalurkan.Laporan perubahan posisi keuangan ini disusun dari neraca pada dua periode(tanggal) dan ikhitisar laba rugi selama periode yang dilaporkan.

Ketiga jenis laporan keuangan tersebut merupakan laporan keuangan yang diwajibkan oleh prinsip akuntansi sehinggah seluruh pihak yang berkepentingan dengan bank dapat mengetahui profit keuangan bank yang bersangkutan. Neraca bank memberikan gambaran tentang posisi kekuatan bank sekaligus memperlihatkan arah bisnis yang sedang ditempuh oleh bank yang bersangkutan. Ikhtisar laba-rugi memperlihatkan kemampuan manejemen bank dalam menciptakan pendapatan dari aktiva yang dimiliki bank bersangkutan. Ikhitisar ini juga memperlhatkan efisiensi pengeluaran biaya, baik dana overhead maupun personalia, yang telah dikeluarkan oleh bank. Akhirnya, ikhtisar perubahan posisi keuangan memperlihatkan keefiktifan manajemen dalam menyerap dana dan menyalurkanya.(profesionalisme manajemen).

2. Hubungan di antara Laporan keuangan Untuk lebih jelasnya, hubungan antara ketiga laporan keuangan bank dapat dijabarkan pada bagan. Penyajian ikhitisar keuangan dan catatan mengenai ikhtisar keuangan harus memenuhi syarat penyajian yang layak sesuai dengan prinsip akkuntansi Indonesia yang diterapkan secara konsisten dalam tahun berlaku atau tahun-tahun sebelumnya.penyajian yang layak berarti tidak boleh ada kesalahan yang material dalam penyajian angka-angka dan segala informasi yang penting seharusnya disajikan agar tidak menyesatkan.Ikhtisar dan catatan mengenai ikhtisar keuangan harus diperiksa (diaudit) oleh akuntan public mengenai kelayakan penyajiannya supaya sesuai dengan standard  akuntansi keuangan (SAK) yang diterapkan secara konsisten.
Semua transaksi antara pihak bank dengan para nasabahnya yang sifatnya bersyarat (kontijensi) harus diungkapkan.Menurut prinsip akuntansi, transaksi bersyarat yang jumlahnya cukup mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruan harus diungkapkan dalam laporan keuangan, yang biasanya disajikan dalam bentuk catatan kaki (footnote)
3. Sistematika Akun Bank

Penyusunan sistematika akun bank dimaksudkan sebagai serana memberikan informasi dan pedoman pelaksaan tugas pengolahan data yang berfungsi pula memberikan penjalasan secara singkat dan jelas atas struktur, nama dan hubungan dalam system akun yang digunakan, deskripsi penggunaan setiap pos dalam system akun sehinga diperoleh pengertian dan pemahaman yang seragam oleh semua pihak.

a. Prinsip dan Karakteristik Sistematika Akun Bank

Sistematika akun bank disusun dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagaimana dikemukakan IBI dalam bukunya. sistem Akuntansi perbankan Indonesia

1) Sistem penomoran menggunakan angka sebanyak digit yang diperlukan

            a.Digit pertama: rubric akun.
            b.Digit kedua: identifikasi jenis valuta; Rupiah=0 valuta asing =1.
            c.Digit ketiga:grup akun.
            d.Digit keempat:sub grup akun.
            e.Digit kelima dan seterusnya adalah rincian atau nama akun individual.

2) Aturan Struktur Akun

            a. Urutan klasifikasi aktiva disusun dengan memperhatikan sifat likuiditas aktiva, aktiva yang lebih 
            likuid diletakkan pada urutan yang lebih atas.

b. Urutan klasifikasi kewajiban disusun dengan memperhatikan sifat kegiatanbank dan urutan jatuh tempo kewajiban, sehingga akun sehubungan dengandana masyarakat diletakkan pada urutan-urutan teratas untuk kemudian diikuti dengan akun kewajiban lainnya sesuai sifat jatuh temponya.

c. Akun-akun pendapatan, beban, komitmen dan kontijensi masing-masingdikelompokkan tersendiri guna memberikan informasi yang lebih lengkap.

       Banyaknya digit  dapat disesuaiakan dengan kebutuhan bank bersanngkutan.hal yang patut diingat adalah bahwa semakin banyak digit yang diperlukan akan memerlukan ruang atau space yang semakin besar dalam memori computer maupun arsipnya.Namun demikian, penomoran dengan komputerisasi ini mutlak diperlukan dalam akuntansi perbankan.

a. Pengelompokan Akun untuk Industri Bank.

Menurut IBI dalam Sistem Akuntansi Perbankan Indonesia,pengelompokan akun sebagai berikut:

1)      Akun aktiva

Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari sumber daya tersebut manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan.
Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aktiva adalah potensi aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung,berupa kas atau setara kas kepada perusahaan
2)  Akun Kewajiban

    Kewajiban adalah utang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu dan yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi.

3) Akun Ekuitas
     
     Ekuitas adalah hak residual atas aktiva peusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Meskipun didefinisikan sebagai residual, ekuitas dapat disubklafikasikan menjadi setoran modal oleh para pemegang ssaham, saldo laba, dan penyisihan para pemegang saham, saldo laba, dan penyisihan saldo laba yang masing-masing dijadikan secara terpisah.

4) Akun penghasilan

    Akun penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akumtansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.

      Defisit penghasilan meliputi pendapatan (revenues) maupun keuntungan(gains). Pendapatan timbul dari pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalty, dan sewa.

     Keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghaasilan dan mungkin timbul atau mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Keuntungan mencerminkan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan demikian pada kakekatnya tidak berbeda dengan pendapatan.

5)  Akun penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

     Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pemberian kredit, pembelian efek (surat berharga) (repo = repurchasing),aktivitas derevatif, tagihan akseptasi, penepatan dana pada bank lain dan penyertaan.

   Penyisihan penghapusan aktiva produktif adalah cadangan penghapusan aktiva yang menghasilkan pendaptan. Penyisihan tersebut dibentuk untuk menutup kemungkinan kerugian yang timbul sehubungan dengan penanaman dana ke dalam aktiva produktif, baik dalam rupiah maupun valuta asing.

6) Akun beban

      Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau beerkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.

7) Akun Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap

      Akun yang disusutkan misalnya, gedung, kendaraan, perabot kantor,dll.

8) Akun komitmen

      Komitmen adalah suatu ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan (irrevocable) secara sepihak dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi.Akun komitmen timbul Karena adanya transaksi yang berupa komitmen tersebut.

9) Akun kontijensi

      Kontijensi adalah suatu kondisi atau situasi, dengan hasil akhir berupa keuntungan atau kerugian, yang baru dapat dikomfirmasikan setelah terjadinya satu atau lebih peristiwa. Akun kontijensi adalah akun yang timbul karena adanya transaksi tersebut.Akun komitmen dan kontijensi merupakan pos administratif yang disusun secara single entry dan belum berpengaruh terhadap laporan keuangan pada tanggal neraca, sehingga dilaporkan secara terpisah pada laporan komitmen dan kontijensi.

  
Sumber : Bastian, Indra dan Suharjono, 2006. Akuntansi Perbankan, Edisi Pertama,. Cetakan Pertama, Salemba Empat, Jakarta.




Selasa, 23 September 2014

Konsepsi Akuntansi Perbankan

  1. PENDAHULUAN
Perbankan Indonesia telah mengalami perubahan orientasi sejak terjadi deregulasi dan liberalisasi keuangan di Indonesia, yang sebelumnya sangat represif. Sebelum tahun 1980-an, bank-bank masih merupakan lembaga yang berorienatasi pada produk. Masyarakat yang membutuhkan pelayanan bank akan dating dan mencari bank. Pelayanan bank masih tradisional, bank masih menganut konsep menjual produk atau jasa, pertimbangan kepuasan pelanggan/nasabah belum sepenuhnya menjadi orientasi bank. Berbeda dengan kondisi setelah Paket Kebijakan Juni (Pakjun) 1983, bank telah tumbuh spektakuler baik menyangkut jumlah bank, cabang bank maupun jumlah produk/jasa yang ditawarkan ditunjang pelayanan yang modern. Persaingan antara bank atau antar cabang bank menjadi semakin tajam baik pada level inovasi produk, level harga (bunga) maupun level pelayanan. Pelayanan sempurna, bahkan super sempurna menjadi keharusan bagi bank memenangkan persaingan. Bank harus menggeser orientasi produk ke orientasi nasabah.
Pelayanan yang sempurna dan pengembangan produk dan  jasa yang berkualitas pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kinerja bank. Kinerja bank/tingkat kesehatan bank akan dicerminkan oleh aspek pemenuhan modal minimum (Capital Adequacy Ratio/CAR), kualitas aktiva produktif (asset quality), kesehatan manajemen (management), kemampuan memperoleh laba (earning power), kemampuan memenuhi kewajiban segera (liquidity) dan sensitivitas pasar (aspek risiko). Faktor-faktor tersebut harus didukung oleh pemenuhan ketentuan moneter lainnya di bidang perbankan misalnya Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) atau Legal Lending Limit (LLL), Net Open Position (NOP), Ketentuan KUK dan sebagainya.
Faktor-faktor dan komponen penentu kinerja bank tersebut harus dikelola secara terus-menerus untuk menghasilkan kinerja yang diinginkan. Untuk mengelola factor tersebut, harus didukung oleh informasi yang tepat pakai (relevan), tepat waktu dan akurat serta adanya kemampuan manajemen dalam mengambil keputusan yang tepat dan akurat. Informasi yang tepat pakai, tepat waktu dan akurat bisa terwujud kalau dikelola dengan baik. Untuk mengelola informasi tersebut diperlukan pemahaman tentang karakteristik bank, keunikan bank dan penggunaan akuntansi untuk mengelola informasi tersebut.
Secara umum karakteristik lembaga perbankan dapat dipahami sebagai berikut:
  1. Bank merupakan lembaga perantara keuangan antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana, serta berfungsi untuk memperlancar lalu lintas pembayaran dengan berpijak pada falsafah kepercayaan.
  2. Sebagai lembaga kepercayaan, bank harus selalu menjaga likuiditasnya sehingga mampu memenuhi kewajiban yang harus segera dibayar. Karakteristik ini mengisyaratkan bahwa bank harus memperhatikan sisi sumber dananya.
  3. Bank selalu dihadapkan pada dilemma antara pemeliharaan likuiditas atau peningkatan earning power. Kedua hal berlawanan dalam mengelola dana perbankan. Artinya kalau menginginkan likuiditas tinggi maka earning atau rentabilitas rendah dan sebaliknya. Dengan demikian bank harus bisa menyikapi hal ini.
  4. Bank sebagai lembaga kepercayaan mempunyai kedudukan yang strategis untuk menunjang pembangunan nasional.
Karakteristik Khusus
  1. Sebagian aset bank adalah monetary assets ataupun alat-alat likuid yang sifat fisiknya tidak tampak, sedangkan aktiva yang berwujud nilainya relatif kecil.
  2. Obyek yang diperdagangkan adalah uang dan jasa yang bersifat abstrak, sehingga perlu adanya internal control yang ketat.
  3. Di dalam bank, uang berfungsi sebagai alat likuid.
  4. Perdagangan dan administrasi jenis mata uang relatif banyak.
  5. Dalam bertransaksi, bank mengandalkan kepercayaan masyarakat, kode rahasia, dokumen-dokemen dan sebagainya.
  6. Jumlah kantor cabang relatif banyak bahkan bisa di seluruh dunia.
  7. Lembaga perbankan selalu diatur secara ketat di manapun beroperasi.
Keunikan Bank
  1. Ada peran monitor to monitor. Artinya bank sebagai lembaga perantara telah menghimpun dana dari deposan dan menempatkannya ke kredit. Deposan akan memonitor bank dan bank akan memonitor debitur. Dengan dukungan pengelolaan informasi yang baik, maka biaya informasi untuk monitoring bagi deposan akan lebih rendah dibandingkan monitoring langsung oleh deposan ke pengguna dana (debitur).
  2. Keputusan pemberian kredit kepada perusahaan tertentu akan direspon positif oleh pasar. Perusahaan yang diberi kredit berarti perusahaan yang sehat, maka saham perusahaan tersebut akan direaksi positif oleh pasar. Keunikan ini tidak dimiliki oleh lembaga bisnis lainnya.
  3. Mampu memerankan transfer kekayaan dari yang tua ke yang muda (intergenerational wealth transfer). Generasi tua sudah pensiun  suka menabung atau tidak produktif lagi, sedangkan generasi muda masih giat berusaha. Yang muda menggunakan dana generasi tua untuk kepentingan yang produktif melalui perantara bank.
  4. Dapat bertindak sebagai asset transformer. Bank bisa menerbitkan klaim keuangan berupa surat berharga obligasi, deposito dan lainnya kemudian ditempatkan dalam bentuk kredit atau yang lain.
Dengan memperhatikan karakteristik dan keunikan bank, maka dapat dipastikan bahwa pengelolaan informasi untuk pengambilan keputusan sangat diperlukan. Untuk mengelola informasi diperlukan akuntansi. Dengan akuntansi, informasi dapat disajikan tepat waktu dan relevan untuk pengambilan keputusan. Dalam akuntansi, konsistensi metode, teknik dan prinsip tetap dipeihara untuk keseragaman persepsi. Keseragaman persepsi akan membuat akuntansi tidak hanya dapat digunakan untuk kepentingan internal, namun juga pihak-pihak eksternal yang membutuhkan informasi akuntansi.
Buku ajar ini akan memaparkan Akuntansi Perbankan Dalam Transaksi Rupiah secara teoritis maupun aplikasinya dalam perspektif manual. Penguasaan teori dan aplikasi secara manual akan sangat membantu dalam praktik, bahkan praktik yang didukung oleh alat berupa software tertentu pada lembaga perbankan.
  1. URAIAN MATERI
    1. Pengertian Akuntansi
Pengertian akuntansi menurut Committee on terminology of the American Institute of Certified Public Accountants bahwa akuntansi adalah seni mencatat, menggolongkan dan mengikhtisarkan transaksi dan peristiwa yang paling tidak sebagian bersifat keuangan dengan suatu cara yang bermakna dan dalam satuan uang, serta menginterpretasikan hasil-hasilnya. Akhir-akhir ini akuntansi selain dipandang sebagai seni, juga dipandang sebagai bahasa dunia usaha, yaitu sebagai sarana untuk mengkomunikasikan informasi tentang suatu perusahaan.
Akuntansi juga bisa didefinisikan sebagai konsep informasi maupun sebagai sistem informasi. Sebagai konsep informasi, akuntansi merupakan kegiatan jasa yang menyediakan informasi kuantitatif tertutama yang bersifat keuangan, tentang kesatuan-kesatuan ekonomi yang dimaksudkan agar bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, dalam menetapkan pilihan yang pantas di antara berbagai alternatif tindakan. Sedangkan sebagai sistem informasi, akuntansi merupakan proses yang menjalin sumber informasi, saluran komunikasi dan seperangkat penerima. Pandangan ini menekankan pada konseptual dan empiris. Artinya, pertama diasumsikan bahwa sistem akuntansi adalah satu-satunya sistem pengukuran yang formal bagi suatu organisasi. Kedua bahwa pandangan ini menimbulkan kemungkinan perancangan suatu sistem akuntansi secara opsional yang mampu menyediakan informasi yang berguna bagi semua pemakai. Ketiga adalah menekankan pentingnya Akuntan sebagai pengirim akuntansi dan pemakai (penerima akuntansi).
Jadi, secara umum akuntansi bisa didefinisikan sebagai seni, ilmu, sistem informasi yang didalamnya menyangkut pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan cara sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta adanya penginterpretasian hasil pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan.
  1. Kerangka Konseptual Akuntansi
Kerangka konseptual akuntansi adalah suatu sistem pertalian yang erat (koheren) dari tujuan dan konsep-konsep dasar yang saling berhubungan dan saling mengarahkan terciptanya prinsip-prinsip yang konsisten serta menggambarkan sifat, fungsi dan keterbatasan akuntansi beserta laporan keuangan. Sebagai konsep, tentu akan memberikan manfaat bagi perkembangan akuntansi atau sebaliknya perkembangan akuntansi yang memberikan manfaat bagi konsep dasar akuntansi. Oleh karena itu dalam menghadapi persoalan akuntansi hendaknya dapat dikembalikan pada konsep dasarnya.
Dengan kerangka konseptual akuntansi akan dapat dirumuskan prinsip-prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagi para pemakai informasi akuntansi dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktik akuntansi. Di samping itu, sebagai kerangka dasar setiap perubahan ataupun perkembangan akuntansi sulit dipecahkan, maka harus dilandasi kerangka konseptual ini dalam setiap memecahkan masalah-masalah yang berkembang dan berkaitan dengan akuntansi tersebut.
Dengan kerangka konseptual juga akan dihasilkan tujuan dan dasar-dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan. Dengan demikian hal ini akan memudahkan para pemakai dalam memahami tujuan, isi dan karakteristik informasi yang dihasilkan oleh akuntansi.
Kerangka konseptual akuntansi juga akan memberikan pedoman untuk memilih alternatif yang mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi dengan cara yang paling akurat dalam lingkungan tertentu. Setiap jenis usaha mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga informasi yang dihasilkanpun berbeda. Padahal untuk menilai aktivitas diperlukan keseragaman persepsi mengenai informasi tersebut. Sehingga peran pemasok informasi harus dapat mengembangkan dan bersikap profesional agar informasi yang diperlukan oleh pengambil keputusan tidak menyesatkan. Dengan demikian kerangka konseptual akuntansi sangat berguna dalam menyajikan informasi yang dapat diterima oleh semua pihak dalam berbagai lapangan usaha.
Kerangka konseptual akuntansi dibagun  dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tujuan pokok akuntansi, tingkatan kedua adalah konsep dasar pelapaoran yang terdiri dari karakteristik informasi dan elemen laporan keuangan. Tujuan pokok dan konsep dasar pelaporan tersebut selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga yaitu menyusun pedoman pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini harus memperhatikan asumsi, prinsip dan kendala.
Tujuan Pokok Akuntansi
Tujuan pokok akuntansi adalah tujuan umum laporan keuangan yaitu memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi para pemakainya. Untuk dapat menyampaikan informasi tersebut harus menggunakan alat atau media berupa laporan keuangan. Secara khusus laporan keuangan harus mencapai tujuan memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai posisi aktiva, hutang dan modal beserta perubahannya, sehingga dapat digunakan untuk menaksir prospek arus kas, kondisi keuangan, prestasi dan potensi perusahaan atau bank dalam menghasilkan laba. Di samping itu dapat menjelaskan bagaimana dana diperoleh dan digunakan.
Tujuan laporan keuangan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengambil keputusan. Ini berarti tujuan tersebut dapat saja berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan pemakai, situasi dan kondisi ekonomi, politik, hukum maupun aspek lingkungan bisnis. Tetapi yang tidak boleh dilupakan bahwa laporan keuangan tersebut disusun dalam konteks untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan semua pemakai yang berbeda-beda atau bersifat umum. Kalau demikian, maka kelompok pemakai tertentu tidak mempunyai hak untuk menentukan jenis informasi tertentu. Para pemakai laporan keuangan dituntut untuk mengetahui karakteristik perusahaan dan pengetahuan akuntansi agar dapat memahami informasi dalam laporan keuangan.
Konsep Dasar Pelaporan
Konsep dasar pelaporan merupakan penghubung antara pedoman pelaksanaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konsep ini harus mampu menjelaskan karakteristik atau mutu informasi dan elemen-elemen yang akan disajikan dalam laporan keuangan sehingga fungsi akuntansi sebagai penyedia jasa informasi dapat menentukan kepada siapa informasi tersebut ditujukan, tipe-tipe informasi yang dibutuhkan dan bagaimanakah karakteristik informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian tujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak dapat dipenuhi.
  1. a.      Karakteristik Mutu Informasi Akuntansi.
Pemilihan metode akuntansi, tipe informasi dan format informasi yang diperlukan akan menentukan nilai kegunaan informasi bagi pengambil keputusan. Untuk itu informasi yang disajikan harus informasi yang baik dan memberikan manfaat yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh/menyajikan informasi tersebut. Beberapa alternatif laporan yang dapat disajikan juga harus menjadi pertimbangan misalnya pos-pos yang harus dikapitalisasikan sebagai aktiva atau sebagai kewajiban (pasiva), pendapatan dan biaya serta komitmen & kontijensi (khusus untuk lembaga perbankan) yang harus disajikan dalam periode pelaporan tersebut dan ukuran yang digunakan dalam menyajikannya. Untuk ukuran ini misalnya berupa biaya historis, nilai sekarang atau nilai buku. Informasi-informasi tersebut harus berhubungan dengan tipe keputusan yang akan diambil oleh pemakai informasi. Untuk dapat menghubungkan informasi tersebut, para pemakai harus mengerti informasi yang disajikan. Pemakai harus dapat merasakan kadar kemampuan dan arti pentingnya informasi yang diterimanya.
Informasi yang dapat dimengerti adalah informasi yang mempunyai sifat relevansi dan reliabilitas, memiliki daya banding dan konsisten. Pola hubungan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengambil keputusan tercermin dalam hirarki kualitas informasi akuntansi.
a.1. Relevansi Informasi Akuntansi
Kualitas primer suatu informasi akuntansi ditentukan oleh relevansi dan reliabilitasnya. Relevansi ini dapat diukur melalui maksud penggunaan informasi tersebut. Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada. Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada. Dengan demikian relevansi selalu dikaitkan dengan feedback dan nilai prediktif dari informasi tersebut. Kiat pengambil keputusan tidak merasa diperkuat atau diperlemah oleh informasi yang disajikan, maka informasi itu bisa dikatakan tidak mengandung relevansi. Sebaliknya bila pengambil keputusan dapat memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal timbul di kemudian hari atas dasar informasi, maka informasi  tersebut dikatakan relevan.
Informasi juga bisa dikatakan relevan kalau disajikan tepat waktu. Sebab informasi yang basi atau disampaikan tidak tepat waktu akan tidak ada gunanya bagi pengambil keputusan. Dengan kata lain informasi tersebut tidak relevan.
a.2. Reliabilitas Informasi Akuntansi.
Informasi yang disampaikan harus andal, dalam arti bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat dipercaya pemakainya yaitu telah disajikan dengan benar dari yang seharusnya disajikan atau secara wajar diharapkan dapat disajikan, sehingga mencerminkan secara tepat mengenai keadaan atau peristiwa ekonomi yang akan disampaikan. Reliabilitas atau keandalan tidak sama dengan keakuratan secara absolut. Informasi-informasi yang disampaikan bisa saja didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang didalamnya tidak lepas dari estimasi, dan estimasi tersebut tidak akan tepat secara total atau eksak, namun begitu informasi masih mengandung keandalan untuk digunakan. Keandalan informasi ini dapat ditentukan oleh daya uji atau uji kebenarannya, bersifat netral atas dasar pertimbangan sehat serta harus lengkap dan ada ketepatan dalam penyajian. Ketepatan dalam menyajikan (jujur) merupakan kesesuaian antara informasi yang dilaporkan dengan hasil-hasil aktual dari aktivitas ekonomi yang diukurnya.
a.3.  Komparabilitas atau Daya Banding  
Informasi akan semakin bermanfaat apabila dapat dikaitkan dengan standar ukuran tertentu. Standar ukuran ini menjadikan informasi dapat diperbandingkan. Perbandingan dapat dilakukan terhadap data dari periode yang berbeda dalam satu perusahaan, atau dapat pula terhadap data atau informasi dari perusahaan lain yang sejenis pada periode yang sama. Perbandingan ini untuk mengidentifikasikan kecenderungan atau tren posisi dan kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan baik secara absolut maupun relatif. Oleh karena itu pengukuran dan penyajian informasi keuangan dari transaksi atau peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten. Konsisten di sini  artinya taat azas dan menggunakan metode serta prinsip akuntansi yang sama. Namun demikian perlu diingat bahwa keseragaman tidaklah selalu menjawab komparabilitas (Jay M. Smith  dan Fred Skoisen).  Dalam kenyataannya, praktik akuntansi pada lingkungan yang berbeda mungkin akan membutuhkan perlakuan yang berbeda pula, sehingga masalah besar dalam akuntansi yang menerima berbagai alternative metode akuntansi dewasa ini dalam situasi yang tidak begitu berbeda belum memadai untuk membenarkan praktik akuntansi yang berbeda-beda.
a.4.  Konsistensi
Seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa untuk menyajikan informasi keuangan atau akuntansi dihadapkan pada berbagai alternatif metode akuntansi. Oleh sebab itu agar informasi akuntansi bermanfaat, penggunaan metode akuntansi harus konsisten agar keberlangsungan dan kekomparabelan laporan keuangan tercapai.
  1. b.      Elemen-elemen Laporan Keuangan.
Elemen pokok laporan keuangan terdiri dari aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Tugas akuntansi adalah untuk mengikuti, mengukur dan mengkomunikasikan perubahan-perubahan dan perkembangannya. Elemen pokok ini telah berlaku umum di dunia usaha dan setiap elemen saling terkait dengan elemen.
b.1. Aktiva adalah manfaat ekonomi yang dinyatakan untuk sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang meliputi barang dan hak-hak yang memberikan manfaat di masa yang akan dating dan didapat dari transaksi-transaksi atau peristiwa yang terjadi di masa lalu.
b.2. Hutang atau kewajiban adalah pengorbanan sumber ekonomis yang mungkin di masa yang akan datang yang timbul dari kewajiban entitas tertentu pada saat ini untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas yang lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa di masa lampau.
b.3. Modal adalah jumlah uang yang dinyatakan untuk sisa hak atas aktiva perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Modal merupakan hak atas aktiva perusahaan yang melekat pada pemiliknya.

b.4.  Pendapatan adalah jumlah kotor dari kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban (atau kombinasi keduanya). Pendapatan timbul dari aktivitas penjualan barang atau jasa, penyerahan jasa dan aktivitas lainnya yang mengakibatkan diperolehnya pendapatan atau laba bagi perusahaan.
b.5.  Biaya adalah jumlah kotor dari penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban. Biaya ini timbul dari kegiatan-kegiatan pembuatan atau pengadaan barang dan jasa, dan lain-lain kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan dalam suatu periode.
b.6. Laba adalah selisih lebih antara pendapatan di atas biaya dalam suatu periode, dan disebut rugi apabila terjadi sebaliknya.

  1. Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi adalah dalil doktrin untuk mengawasi suati sistem atau aktivitas tertentu yang telah diterima kebenarannya. Prinsip akuntansi bukan merupakan kebenaran yang hakiki dalam bidang akuntansi, karena pada hakekatnya akuntansi selalu berkembang dan selalu berubah sesuai dengan perkembangan dan perubahan nilai-nilai yang terjadi di masyarakat. Prinsip akuntansi dapat bersifat tertulis maupun tidak tertulis sebagai akibat yang timbul dari pengalaman yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyajikan informasi keuangan.
Prinsip akuntansi dibutuhkan dalam kondisi yang selalu berubah, mengingat akuntansi tidak membuat diskriminasi dengan menyelenggarakan aktivitas-aktivitas yang secara khusus diarahkan untuk memenuhi pihak tertentu, akan tetapi informasi yang disajikan adalah relevan dengan kepentingan dan memuaskan berbagai pihak yang menggunakannya. Bila informasi keuangan yang disajikan tidak memenuhi kepuasan berbagai pihak berarti laporan keuangan tersebut sebagai media penyampaian informasi telah gagal. Ini disebabkan karena pertama telah kehilangan fungsinya sebagai aktivitas penyedia jasa, kedua gagal untuk memenuhi fungsinya sebagai suatu sistem informasi, dan ketiga akuntansi tersebut telah kehilangan maknanya sebagai suatu fungsi analisis. Oleh karena itu penggunaan prinsip akuntansi menjadi sangat penting agar ada kesamaan dalam hal cara, metode, prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan, bersifat netral, dan dapat diperbandingkan.
Prinsip-prinsp tersebut adalah:
  1. Prinsip Harga Perolehan
Prinsip ini ditekankan bahwa aktiva, hutang, modal, penghasilan dan biaya hendaknya dicatat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi. Penggunaan prinsip ini didasari bahwa harga tersebut ditentukan secara obyektif, jumlahnya sudah diketahui dan dapat diuji kebenarannya melalui bukti-bukti transaksi. Pengukuran harga historis adalah melalui jumlah kas atau yang ekuivalen.
  1.  Prinsip Realisasi Penghasilan
Prinsip ini mencakup pengertian, pengukuran dan pengakuan penghasilan. Penghasilan adalah setiap pertambahan aktiva atau penurunan hutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa selama periode akuntansi tertentu. Pengukuran penghasilan dapat ditentukan melalui jumlah kas atau ekuivalennya, jumlah aktiva yang diterima dan jumlah penurunan hutang. Kemudian pengakuan penghasilan pada prinsipnya berdasarkan realisasi penghasilan. Realisasi penghasilan dapat ditentukan berdasarkan justifikasi bahwa barang atau jasa telah tersedia dan jumlahnya sudah diketahui secara pasti.
Dalam kaitannya dengan pengakuan penghasilan, maka timbul beberapa metode pengakuan penghasilan yaitu:
Pertama pada saat penjualan barang atau jasa. Bila penjualan barang dan jasa sudah tersedia dan dapat diukur secara pasti, maka metode ini dapat diterapkan. Contoh pada lembaga perbankan ketika memberikan kredit, maka saat komitmen direalisasi seluruh pendapatan non bunga (provisi, administrasi, biaya transaksi dll) dari kredit tersebut langsung dicatat sebagai pendapatan.
Kedua adalah pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum melakukan penjualan. Metode ini dapat digunakan kalau pemasaran barang dan jasa sudah terjamin misalnya sudah adanya kontrak/perjanjian tertentu dengan pihak lain, kemudian harganya sudah relatif pasti dan sebagian besar kegiatan untuk memperoleh penghasilan dimaksud sudah dilaksanakan. Contoh dalam transaksi call option.
Ketiga adalah pengakuan penghasilan didasarkan pada saat penerimaan kas. Metode ini dapat dilakukan kalau resiko terjadinya piutang tidak tertagih atau jangka waktunya relatif  lama. Metode ini digunakan bank terutama bila mengakui pendapatan bunga yang berasal dari kredit bermasalah atau bahkan macet. Untuk kredit macet, pendapatan bunga tidak akan diakui menjadi rekening nominal (pendapatan bunga) sebelum benar-benar direalisasi.
  1. Prinsip Mempertemukan Pendapatan dan Biaya
Prinsip ini menyatakan bahwa hasil aktivitas perusahaan selama periode tertentu yang diuangkan dalam laporan keuangan merupakan hasil dalam periode yang sama. Pendapatan dan biaya harus sesuatu hal yang terjadi dalam waktu yang sama. Untuk dapat mempertemukan pendapatan dan biaya dalam periode yang sama maka diperlukan metode pengakuan pemdapatan dan biaya. Pengakuan tersebut bisa menggunakan dasar waktu (accrual basis).
  1. Prinsip Obyektif.
Prinsip ini memberikan pengertian bahwa laporan keuangan yang dihasilkan haruslah didasarkan pada data akuntansi yang didukung oleh bukti-bukti transaksi yang obyektif. Bukti transaksi yang obyektif dapat diperoleh bila transaksi yang dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak yang bertransaksi, serta didukung oleh pengawasan dan pengendalian intern yang baik.
  1. Prinsip Pengungkapan Penuh.
Laporan keuangan hendaknya dapat memberikan semua informasi baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang dapat mempengaruhi interpretasi dan pengambilan keputusan para pemakainya. Untuk mencapai ini maka laporan keuangan harus disusun secara baik sesuai dengan standar akuntansi yang disepakati umum, menggunakan istilah-istilah yang tepat, memberikan catatan tambahan, memberikan lampiran, catatan kaki dan sebagainya.
Prinsip ini mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut harus mempunyai daya banding.
  1. Prinsip Konsistensi
 Daya banding ini perusahaan-perusahaan yang sama dalam periode yang berbeda atau dalam perusahaan yang berbeda untuk periode yang sama. Daya banding laporan keuangan akan ditentukan oleh konsistensi penggunaan teori, metode, dasar, pedoman dan praktik akuntansi yang sama dengan yang diterapkan sebelumnya. Konsistensi pada kasus tertentu ada metode yang tidak cocok dengan kondisi saat ini, maka perusahaan dapat mengganti metode tersebut asalkan perusahaan menjelaskan tentang perubahan metode tersebut dan pengaruh penggunaan metode tersebut terhadap angka-angka dalam laporan keuangan.
  1. Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi
Konsep merupakan pernyataan yang tidak perlu dibuktikan atau merupakan aksioma yang diterima secara umum karena sesuai dengan tujuan laporan keuangan dan menggambarkan sifat kesatuan akuntansi dari sebuah perusahaan. Konsep-konsep akuntansi yang digunakan dalam lingkungannya akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kondisi sosial, kondisi ekonomi, politik dan sebagainya. Konsep ini dapat juga dikatakan sebagai asumsi dasar dalam akuntansi. Asumsi dasar ini terutama dalam menyusun prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi disusun dengan memperhatikan tujuan laporan keuangan, keadaan perekonomian, keadaan politik, perundang-undangan dan sebagainya yang berkaitan dengan dunia usaha. Bisa saja terjadi perbedaan perumusan konsep dasar akuntansi antara pakar yang satu dengan pakar yang lain karena faktor-faktor tersebut. Bahkan sering terjadi sulit membedakan antara konsep dengan prinsip akuntansi.
Konsep dasar akuntansi antara lain meliputi:
  1. Kesatuan Usaha
Dalam konsep ini diasumsikan bahwa perusahaan merupakan kesatuan usaha yang terpisah dengan pemiliknya dan akuntansi memandang dari segi perusahaannya. Laporan keuangan yang disusun adalah laporan keuangan perusahaan, bukan laporan keuangan pemilik. Adanya pemisahan ini merupakan faktor utama yang dijadikan pertimbangan untuk membebankan pada kesatuan ekonomi tersebut yaitu kewajiban mempertanggungjawabkan keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Batas entitas akuntansi/ usaha tidak harus sama dengan batas hukumnya. Misalnya perusahaan induk dengan perusahaan anak merupakan entitas hokum tersendiri, namun secara akuntansi bukan merupakan penyimpanan bila ada penggabungan aktivitas perusahaan untuk tujuan akuntansi dan pelaporan.
  1. Kesinambungan / going concern
Konsep ini menjelaskan bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan akan berlangsung secara terus-menerus. Asumsi ini akan memberikan dukungan yang kuat untuk penyajian aktiva berdasarkan harga perolehannya dan bukan atas dasar nilai kontan aktiva tersebut atau nilai yang direalisasikan pada saat likuidasi.
  1. Periode Akuntansi
Konsep ini menjelaskan bahwa rugi dan laba perusahaan baru dapat diketahui setelah perusahaan dilikuidasi atau dengan kata lain bahwa tingkat kesuksesan suatu perusahaan hanya dapat diketahui pada saat perusahaan menghentikan usahanya dan mencairkan seluruh hartanya menjadi kas. Pada kenyataannya, keputusan manajemen banyak dilakukan selama berlangsungnya kegiatan perusahaan. Untuk mengambil keputusan ini perlu ada informasi. Disinilah laporan keuangan perlu disusun sebagai sumber informasi. Penyusunan laporan keuangan periodik ini beranggapan bahwa umur kegiatan perusahaan yang tidak terbatas tersebut pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan perusahaan dari beberapa periode. Bagian-bagian periode dari periode yang tidak terbatas ini selanjutnya disebut periode akuntansi.
  1. Pengukuran Dalam Nilai Uang
Penyelenggaraan akuntansi beranggapan bahwa mata uang adalah alat pengukur yang berlaku umum terhadap semua kegiatan ekonomi. Penggunaan satuan mata uang (rupiah) didasarkan pemahaman bahwa mata uang mempunyai nilai yang tetap (stable of price).  Bila asumsi ini tidak dipenuhi maka fungsi laporan keuangan sebagai media informasi akan berkurang nilainya.
  1. Penetapan Beban dan Pendapatan
Penentuan laba periodik dan posisi keuangan dilakukan berdasarkan metode akrual, yaitu dikaitkan dengan pengukuran aktiva dan kewajiban serta perubahannya pada saat terjadinya, bukan hanya sekedar pencatatan penerimaan dan pengeluaran uang. Penentuan laba periodik menyangkut dua masalah yaitu: pengakuan pendapatan selama periode dan penentuan beban yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk menghasilkan pendapatan tersebut.
  1. Kendala atau Keterbatasan Akuntansi
Informasi yang disajikan harus memiliki karakteristik mutu. Tetapi untuk menyajikan seperti ini akan dihadapkan pada kendala-kendala. Kendala tersebut dapat dikelompokkan menjadi kendala primer dan kendala sekunder misalnya azas konservatif dan keterbatasan dalam dunia usaha. Kendala sekunder ini tidak begitu penting, namun perlu dipertimbangkan dalam menyajikan informasi akuntansi.
  1. Azas manfaat dan Biaya
Untuk mengumpulkan, mengolah dan melaporkan informasi akuntansi diperlukan biaya. Para pemakai harus mempertimbangkan biaya untuk menghasilkan informasi tersebut. Kesulitannya adalah tidak semua manfaat informasi dapat diukur atau dibuktikan. Manfaat informasi tersebut dapat dirasakan oleh pihak penyaji dalam bentuk efisiensi pengendalian dan oleh para pemakai dalam bentuk alokasi sumber-sumber ekonomi, jumlah pajak yang dibayar, ketaatan terhadap regulasi. Semua ini kadang sulit dikuantitatifkan. Sedangkan biaya untuk pengadaan informasi umumnya mudah dikuantitatifkan.
  1. Azas Materialitas.
Kerangka teoritis / konseptual akuntansi memang sangat kompleks, namun dalam penyajiannya harus praktis. Dalam arti hal-hal yang tidak berpengaruh terhadap aktivitas usaha harus dikeluarkan dari laporan/catatan akuntansi. Azas ini mengemukakan bahwa transaksi-transaksi dan lain-lain peristiwa yang tidak penting / kurang berarti terhadap kegiatan ekonomi perusahaan adalah tidak harus diperlakukan secara konsekuen dengan prinsip-prinsip akuntansi. Perlakuan seperti ini dapat diterima karena informasi yang tidak materialitas tidak cukup berarti atau tidak dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pemakainya.
Kesulitan mengukur materialitas menjadi kendala, mengingat materialitas sangat
tergantung pada pemakainya. Dengan demikian perlu adanya batasan bahwa suatu item dalam hubungannya dengan laporan keuangan dianggap material kalau mempunyai akibat-akibat yang cukup berarti dalam pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan laporan keuangan tersebut. Di sini harus dipahami bahwa item/transaksi dianggap material itu tidak dapat ditentukan atau diukur hanya berdasarkan item itu sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan item yang lain yang saling berhubungan.
  1. Azas Konservatif
Azas ini erat kaitannya dengan risiko ketidakpastian di masa yang akan datang. Azas ini mencerminkan kehati-hatian dalam hal mengakui adanya pendapatan dan biaya sehingga terhindar dari kemungkinan risiko yang akan timbul di masa yang akan datang. Perusahaan dalam menghadapi berbagai alternatif harus melaporkan berdasarkan alternatif yang memberikan keuntungan terkecil. Apabila dalam aktiva terdapat berbagai penilaian, maka nilai aktiva yang paling rendah harus diakui, sebaliknya bila dalam hutang terdapat dua atau lebih alternative jumlahnya, maka jumlah hutang yang paling besar yang dicatat. Begitu pula bila dalam pendapatan dan biaya terdapat berbagai alternative, maka harus dipilih pendapatan dan biaya yang akan mengakibatkan laba periodic paling rendah.
Dalam kaitannya dengan pengakuan dan penilaian pada azas ini terdapat empat macam yaitu:
  1. Pengakuan dan penilaian penghasilan. Dalam hal ini penghasilan harus diakui pada saat realisasinya. Penghasilan adalah setiap nilai yang menambah aktiva. Untuk itu sangat erat dengan penilaian aktiva yang tidak boleh melebihi harga perolehannya. Dengan demikian penghasilan tidak boleh diantisipasi terlalu besar atau terlalu kecil.
  2. Dalam hubungannya dengan pengakuan biaya, maka biaya harus dibebankan pada periode akuntansi sesuai dengan periode pengakuan penghasilan yang diperoleh dengan biaya tersebut.
  3. Dalam hubungannya dengan laba, maka laba harus diakui pada saat realisasi.
  4. Dalam hubungannya dengan pengakuan kerugian, menurut asas ini bahwa perusahaan harus sudah mengakui semua kerugian dan hutang yang diketahui baik yang sudah pasti maupun yang belum pasti. Dalam hal terjadinya hutang ataupun kerugian yang belum pasti maka disebut hutang taksiran yang biasanya ditampung dalam rekening kontijensi.
Azas ini dapat diterima dalam praktik akuntansi, namun bila diterapkan secara berlebihan akan mengakibatkan kesalahan dalam penyajian laba/rugi periodic. Untuk itu harus digunakan secara wajar dan tidak benar digunakan untuk menghindari regulasi-regulasi(terutama di lembaga perbankan) misalnya untuk perpajakan, penyisihan aktiva produktif dll. Keberadaan  azas ini sebenarnya didasari pemikiran bahwa dalam hal jumlah yang seharusnya tidak dapat ditentukan, akan lebih baik bila menyampaikan kepada para pemakai untuk jumlah yang terkecil di antara yang benar.
  1. Kebiasaan-kebiasaan Dalam Dunia Bisnis
Dalam praktik akuntansi secara nyata lebih menginginkan kepraktisan dan aspek kegunaan, sehingga sering dijumpai penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip-prinsip akuntansi. Hal ini masih bisa diperkenankan karena setiap usaha mempunyai karakteristik dan spesifikasi tersendiri. Badan usaha tersebut tidak selalu menerapkan akuntansi secara konseptual. Hal ini menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan karakteristik mutu pelaporan.
  1. Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan
Dalam memahami proses akuntansi, ada baiknya untuk memahami persamaan dasar akuntansi. Persamaan dasar akuntansi dibangun pemahaman antara hak dan kewajiban. Hak merupakan kekayaan atau aktiva atau asset. hak ini ada karena telah timbul kewajiban. Konsep akuntansi menghendaki keseimbangan antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu setiap pertambahan kewajiban bank, harus diikuti peningkatan hak atau asset. Secara umum persamaannya adalah:
Hak = Kewajiban
Aktiva = Pasiva
Kewajiban bank terdiri dari kewajiban terhadap pihak eksternal dan kewajiban terhadap pihak internal. Kewajiban kepada pihak eksternal adalah kewajiban kepada kreditor atau pemberi dana atau deposan. Sedangkan kewajiban terhadap internal adalah kewajiban kepada pemilik modal. Dengan demikian persamaan dapat diperluas menjadi:
Aktiva =          Hutang + Modal
Bila bank melakukan aktivitas, akan memperoleh pendapatan dan mengeluarkan biaya. Selisih Pendapatan dengan biaya merupakan laba bank. Laba bank merupakan komponen modal bank. Untuk itu persamaannya menjadi:
Aktiva  =  Hutang + Modal + Pendapatan – Biaya
Atau,
Aktiva + Biaya  =  Hutang + Modal + Pendapatan
Keterangan:
Pada sisi kiri terdapat aktiva dan biaya, sedangkan pada sisi kanan terdapat Hutang, Modal dan Pendapatan. Persamaan ini akan mempermudah bagi pemula dalam membuat jurnal.
Dengan persamaan  dan penggambaran rekening buku besar, maka dapat disimpulkan bahwa:
  1. Setiap pertambahan aktiva akan didebet, dan pengurangan aktiva akan dikredit.
  2. Setiap pertambahan biaya akan didebet, setiap pengurangan biaya akan dikredit.
  3. Setiap peningkatan hutang akan dikredit dan setiap pengurangan/pelunasan hutang akan didebet.
  4. Setiap pertambahan modal akan dikredit dan penurunan modal akan didebet.
  5. Setiap pertambahan pendapatan bank akan dikredit dan setiap penurunan pendapatan akan didebet.
Aktiva bank misalnya berupa kas, giro BI, penempatan pada bank lain, sekuritas jangka pendek, kredit yang diberikan, penyertaan dan aktiva tetap. Hutang bank misalnya giro nasabah, tabungan, deposito, pinjaman diterima, sedangkan modal berupa modal disetor maupun laba ditahan. Untuk pendapatan bank bisa berupa pendapatan bunga dan pendapatan lainnya. Sedangkan biaya bank berupa biaya bunga dan biaya lainnya.
  1. Sistematika Rekening Bank
Penggunaan nama, struktur dan hubungan antar rekening perlu ada keseragaman agar laporan yang dihasilkan mudah dipahami dan mudah diperbandingkan. Untuk itu sistematika rekening perbankan diperlukan. Sistematika rekening bank disusun dengan menggunakan digit tertentu. Digit pertama berisi rubric rekening, digit kedua berupa identifikasi jenis valuta, digit ketiga berisi kelompok rekening group. Digit keempat berisi kelompok rekening subgroup dan digit ke lima dan seterusnya berisi berupa rincian atau rekening individual.
Contoh secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
1        0   6   2   1
Keterangan:
Mulai dari kiri 1 =  Aktiva
0 =  Aktiva Dalam Rupiah
6         =  Kredit yang Diberikan
2     =  Pihak Tidak Terkait Dengan Bank
1     =  Rekening Individual
Pengelompokan rekening selanjutnya didasarkan pada sifat dan fungsi rekening. Pengelompokan ini dimaksudkan agar dapat menggambarkan posisi aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, beban, komitmen dan kontijensi.