- PENDAHULUAN
Pelayanan yang sempurna dan pengembangan produk dan jasa yang berkualitas pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kinerja bank. Kinerja bank/tingkat kesehatan bank akan dicerminkan oleh aspek pemenuhan modal minimum (Capital Adequacy Ratio/CAR), kualitas aktiva produktif (asset quality), kesehatan manajemen (management), kemampuan memperoleh laba (earning power), kemampuan memenuhi kewajiban segera (liquidity) dan sensitivitas pasar (aspek risiko). Faktor-faktor tersebut harus didukung oleh pemenuhan ketentuan moneter lainnya di bidang perbankan misalnya Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) atau Legal Lending Limit (LLL), Net Open Position (NOP), Ketentuan KUK dan sebagainya.
Faktor-faktor dan komponen penentu kinerja bank tersebut harus dikelola secara terus-menerus untuk menghasilkan kinerja yang diinginkan. Untuk mengelola factor tersebut, harus didukung oleh informasi yang tepat pakai (relevan), tepat waktu dan akurat serta adanya kemampuan manajemen dalam mengambil keputusan yang tepat dan akurat. Informasi yang tepat pakai, tepat waktu dan akurat bisa terwujud kalau dikelola dengan baik. Untuk mengelola informasi tersebut diperlukan pemahaman tentang karakteristik bank, keunikan bank dan penggunaan akuntansi untuk mengelola informasi tersebut.
Secara umum karakteristik lembaga perbankan dapat dipahami sebagai berikut:
- Bank merupakan lembaga perantara keuangan antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana, serta berfungsi untuk memperlancar lalu lintas pembayaran dengan berpijak pada falsafah kepercayaan.
- Sebagai lembaga kepercayaan, bank harus selalu menjaga likuiditasnya sehingga mampu memenuhi kewajiban yang harus segera dibayar. Karakteristik ini mengisyaratkan bahwa bank harus memperhatikan sisi sumber dananya.
- Bank selalu dihadapkan pada dilemma antara pemeliharaan likuiditas atau peningkatan earning power. Kedua hal berlawanan dalam mengelola dana perbankan. Artinya kalau menginginkan likuiditas tinggi maka earning atau rentabilitas rendah dan sebaliknya. Dengan demikian bank harus bisa menyikapi hal ini.
- Bank sebagai lembaga kepercayaan mempunyai kedudukan yang strategis untuk menunjang pembangunan nasional.
- Sebagian aset bank adalah monetary assets ataupun alat-alat likuid yang sifat fisiknya tidak tampak, sedangkan aktiva yang berwujud nilainya relatif kecil.
- Obyek yang diperdagangkan adalah uang dan jasa yang bersifat abstrak, sehingga perlu adanya internal control yang ketat.
- Di dalam bank, uang berfungsi sebagai alat likuid.
- Perdagangan dan administrasi jenis mata uang relatif banyak.
- Dalam bertransaksi, bank mengandalkan kepercayaan masyarakat, kode rahasia, dokumen-dokemen dan sebagainya.
- Jumlah kantor cabang relatif banyak bahkan bisa di seluruh dunia.
- Lembaga perbankan selalu diatur secara ketat di manapun beroperasi.
- Ada peran monitor to monitor. Artinya bank sebagai lembaga perantara telah menghimpun dana dari deposan dan menempatkannya ke kredit. Deposan akan memonitor bank dan bank akan memonitor debitur. Dengan dukungan pengelolaan informasi yang baik, maka biaya informasi untuk monitoring bagi deposan akan lebih rendah dibandingkan monitoring langsung oleh deposan ke pengguna dana (debitur).
- Keputusan pemberian kredit kepada perusahaan tertentu akan direspon positif oleh pasar. Perusahaan yang diberi kredit berarti perusahaan yang sehat, maka saham perusahaan tersebut akan direaksi positif oleh pasar. Keunikan ini tidak dimiliki oleh lembaga bisnis lainnya.
- Mampu memerankan transfer kekayaan dari yang tua ke yang muda (intergenerational wealth transfer). Generasi tua sudah pensiun suka menabung atau tidak produktif lagi, sedangkan generasi muda masih giat berusaha. Yang muda menggunakan dana generasi tua untuk kepentingan yang produktif melalui perantara bank.
- Dapat bertindak sebagai asset transformer. Bank bisa menerbitkan klaim keuangan berupa surat berharga obligasi, deposito dan lainnya kemudian ditempatkan dalam bentuk kredit atau yang lain.
Buku ajar ini akan memaparkan Akuntansi Perbankan Dalam Transaksi Rupiah secara teoritis maupun aplikasinya dalam perspektif manual. Penguasaan teori dan aplikasi secara manual akan sangat membantu dalam praktik, bahkan praktik yang didukung oleh alat berupa software tertentu pada lembaga perbankan.
- URAIAN MATERI
- Pengertian Akuntansi
Akuntansi juga bisa didefinisikan sebagai konsep informasi maupun sebagai sistem informasi. Sebagai konsep informasi, akuntansi merupakan kegiatan jasa yang menyediakan informasi kuantitatif tertutama yang bersifat keuangan, tentang kesatuan-kesatuan ekonomi yang dimaksudkan agar bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, dalam menetapkan pilihan yang pantas di antara berbagai alternatif tindakan. Sedangkan sebagai sistem informasi, akuntansi merupakan proses yang menjalin sumber informasi, saluran komunikasi dan seperangkat penerima. Pandangan ini menekankan pada konseptual dan empiris. Artinya, pertama diasumsikan bahwa sistem akuntansi adalah satu-satunya sistem pengukuran yang formal bagi suatu organisasi. Kedua bahwa pandangan ini menimbulkan kemungkinan perancangan suatu sistem akuntansi secara opsional yang mampu menyediakan informasi yang berguna bagi semua pemakai. Ketiga adalah menekankan pentingnya Akuntan sebagai pengirim akuntansi dan pemakai (penerima akuntansi).
Jadi, secara umum akuntansi bisa didefinisikan sebagai seni, ilmu, sistem informasi yang didalamnya menyangkut pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan cara sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta adanya penginterpretasian hasil pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan.
- Kerangka Konseptual Akuntansi
Dengan kerangka konseptual akuntansi akan dapat dirumuskan prinsip-prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagi para pemakai informasi akuntansi dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktik akuntansi. Di samping itu, sebagai kerangka dasar setiap perubahan ataupun perkembangan akuntansi sulit dipecahkan, maka harus dilandasi kerangka konseptual ini dalam setiap memecahkan masalah-masalah yang berkembang dan berkaitan dengan akuntansi tersebut.
Dengan kerangka konseptual juga akan dihasilkan tujuan dan dasar-dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan. Dengan demikian hal ini akan memudahkan para pemakai dalam memahami tujuan, isi dan karakteristik informasi yang dihasilkan oleh akuntansi.
Kerangka konseptual akuntansi juga akan memberikan pedoman untuk memilih alternatif yang mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi dengan cara yang paling akurat dalam lingkungan tertentu. Setiap jenis usaha mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga informasi yang dihasilkanpun berbeda. Padahal untuk menilai aktivitas diperlukan keseragaman persepsi mengenai informasi tersebut. Sehingga peran pemasok informasi harus dapat mengembangkan dan bersikap profesional agar informasi yang diperlukan oleh pengambil keputusan tidak menyesatkan. Dengan demikian kerangka konseptual akuntansi sangat berguna dalam menyajikan informasi yang dapat diterima oleh semua pihak dalam berbagai lapangan usaha.
Kerangka konseptual akuntansi dibagun dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tujuan pokok akuntansi, tingkatan kedua adalah konsep dasar pelapaoran yang terdiri dari karakteristik informasi dan elemen laporan keuangan. Tujuan pokok dan konsep dasar pelaporan tersebut selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga yaitu menyusun pedoman pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini harus memperhatikan asumsi, prinsip dan kendala.
Tujuan Pokok Akuntansi
Tujuan pokok akuntansi adalah tujuan umum laporan keuangan yaitu memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi para pemakainya. Untuk dapat menyampaikan informasi tersebut harus menggunakan alat atau media berupa laporan keuangan. Secara khusus laporan keuangan harus mencapai tujuan memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai posisi aktiva, hutang dan modal beserta perubahannya, sehingga dapat digunakan untuk menaksir prospek arus kas, kondisi keuangan, prestasi dan potensi perusahaan atau bank dalam menghasilkan laba. Di samping itu dapat menjelaskan bagaimana dana diperoleh dan digunakan.
Tujuan laporan keuangan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengambil keputusan. Ini berarti tujuan tersebut dapat saja berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan pemakai, situasi dan kondisi ekonomi, politik, hukum maupun aspek lingkungan bisnis. Tetapi yang tidak boleh dilupakan bahwa laporan keuangan tersebut disusun dalam konteks untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan semua pemakai yang berbeda-beda atau bersifat umum. Kalau demikian, maka kelompok pemakai tertentu tidak mempunyai hak untuk menentukan jenis informasi tertentu. Para pemakai laporan keuangan dituntut untuk mengetahui karakteristik perusahaan dan pengetahuan akuntansi agar dapat memahami informasi dalam laporan keuangan.
Konsep Dasar Pelaporan
Konsep dasar pelaporan merupakan penghubung antara pedoman pelaksanaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konsep ini harus mampu menjelaskan karakteristik atau mutu informasi dan elemen-elemen yang akan disajikan dalam laporan keuangan sehingga fungsi akuntansi sebagai penyedia jasa informasi dapat menentukan kepada siapa informasi tersebut ditujukan, tipe-tipe informasi yang dibutuhkan dan bagaimanakah karakteristik informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian tujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak dapat dipenuhi.
- a. Karakteristik Mutu Informasi Akuntansi.
Informasi yang dapat dimengerti adalah informasi yang mempunyai sifat relevansi dan reliabilitas, memiliki daya banding dan konsisten. Pola hubungan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengambil keputusan tercermin dalam hirarki kualitas informasi akuntansi.
a.1. Relevansi Informasi Akuntansi
Kualitas primer suatu informasi akuntansi ditentukan oleh relevansi dan reliabilitasnya. Relevansi ini dapat diukur melalui maksud penggunaan informasi tersebut. Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada. Dengan demikian relevansi berarti memilih metode pengukuran dan pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat pengharapan yang ada. Dengan demikian relevansi selalu dikaitkan dengan feedback dan nilai prediktif dari informasi tersebut. Kiat pengambil keputusan tidak merasa diperkuat atau diperlemah oleh informasi yang disajikan, maka informasi itu bisa dikatakan tidak mengandung relevansi. Sebaliknya bila pengambil keputusan dapat memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal timbul di kemudian hari atas dasar informasi, maka informasi tersebut dikatakan relevan.
Informasi juga bisa dikatakan relevan kalau disajikan tepat waktu. Sebab informasi yang basi atau disampaikan tidak tepat waktu akan tidak ada gunanya bagi pengambil keputusan. Dengan kata lain informasi tersebut tidak relevan.
a.2. Reliabilitas Informasi Akuntansi.
Informasi yang disampaikan harus andal, dalam arti bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat dipercaya pemakainya yaitu telah disajikan dengan benar dari yang seharusnya disajikan atau secara wajar diharapkan dapat disajikan, sehingga mencerminkan secara tepat mengenai keadaan atau peristiwa ekonomi yang akan disampaikan. Reliabilitas atau keandalan tidak sama dengan keakuratan secara absolut. Informasi-informasi yang disampaikan bisa saja didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang didalamnya tidak lepas dari estimasi, dan estimasi tersebut tidak akan tepat secara total atau eksak, namun begitu informasi masih mengandung keandalan untuk digunakan. Keandalan informasi ini dapat ditentukan oleh daya uji atau uji kebenarannya, bersifat netral atas dasar pertimbangan sehat serta harus lengkap dan ada ketepatan dalam penyajian. Ketepatan dalam menyajikan (jujur) merupakan kesesuaian antara informasi yang dilaporkan dengan hasil-hasil aktual dari aktivitas ekonomi yang diukurnya.
a.3. Komparabilitas atau Daya Banding
Informasi akan semakin bermanfaat apabila dapat dikaitkan dengan standar ukuran tertentu. Standar ukuran ini menjadikan informasi dapat diperbandingkan. Perbandingan dapat dilakukan terhadap data dari periode yang berbeda dalam satu perusahaan, atau dapat pula terhadap data atau informasi dari perusahaan lain yang sejenis pada periode yang sama. Perbandingan ini untuk mengidentifikasikan kecenderungan atau tren posisi dan kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan baik secara absolut maupun relatif. Oleh karena itu pengukuran dan penyajian informasi keuangan dari transaksi atau peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten. Konsisten di sini artinya taat azas dan menggunakan metode serta prinsip akuntansi yang sama. Namun demikian perlu diingat bahwa keseragaman tidaklah selalu menjawab komparabilitas (Jay M. Smith dan Fred Skoisen). Dalam kenyataannya, praktik akuntansi pada lingkungan yang berbeda mungkin akan membutuhkan perlakuan yang berbeda pula, sehingga masalah besar dalam akuntansi yang menerima berbagai alternative metode akuntansi dewasa ini dalam situasi yang tidak begitu berbeda belum memadai untuk membenarkan praktik akuntansi yang berbeda-beda.
a.4. Konsistensi
Seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa untuk menyajikan informasi keuangan atau akuntansi dihadapkan pada berbagai alternatif metode akuntansi. Oleh sebab itu agar informasi akuntansi bermanfaat, penggunaan metode akuntansi harus konsisten agar keberlangsungan dan kekomparabelan laporan keuangan tercapai.
- b. Elemen-elemen Laporan Keuangan.
b.1. Aktiva adalah manfaat ekonomi yang dinyatakan untuk sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang meliputi barang dan hak-hak yang memberikan manfaat di masa yang akan dating dan didapat dari transaksi-transaksi atau peristiwa yang terjadi di masa lalu.
b.2. Hutang atau kewajiban adalah pengorbanan sumber ekonomis yang mungkin di masa yang akan datang yang timbul dari kewajiban entitas tertentu pada saat ini untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas yang lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa di masa lampau.
b.3. Modal adalah jumlah uang yang dinyatakan untuk sisa hak atas aktiva perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Modal merupakan hak atas aktiva perusahaan yang melekat pada pemiliknya.
b.4. Pendapatan adalah jumlah kotor dari kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban (atau kombinasi keduanya). Pendapatan timbul dari aktivitas penjualan barang atau jasa, penyerahan jasa dan aktivitas lainnya yang mengakibatkan diperolehnya pendapatan atau laba bagi perusahaan.
b.5. Biaya adalah jumlah kotor dari penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban. Biaya ini timbul dari kegiatan-kegiatan pembuatan atau pengadaan barang dan jasa, dan lain-lain kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan dalam suatu periode.
b.6. Laba adalah selisih lebih antara pendapatan di atas biaya dalam suatu periode, dan disebut rugi apabila terjadi sebaliknya.
- Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi dibutuhkan dalam kondisi yang selalu berubah, mengingat akuntansi tidak membuat diskriminasi dengan menyelenggarakan aktivitas-aktivitas yang secara khusus diarahkan untuk memenuhi pihak tertentu, akan tetapi informasi yang disajikan adalah relevan dengan kepentingan dan memuaskan berbagai pihak yang menggunakannya. Bila informasi keuangan yang disajikan tidak memenuhi kepuasan berbagai pihak berarti laporan keuangan tersebut sebagai media penyampaian informasi telah gagal. Ini disebabkan karena pertama telah kehilangan fungsinya sebagai aktivitas penyedia jasa, kedua gagal untuk memenuhi fungsinya sebagai suatu sistem informasi, dan ketiga akuntansi tersebut telah kehilangan maknanya sebagai suatu fungsi analisis. Oleh karena itu penggunaan prinsip akuntansi menjadi sangat penting agar ada kesamaan dalam hal cara, metode, prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan, bersifat netral, dan dapat diperbandingkan.
Prinsip-prinsp tersebut adalah:
- Prinsip Harga Perolehan
- Prinsip Realisasi Penghasilan
Dalam kaitannya dengan pengakuan penghasilan, maka timbul beberapa metode pengakuan penghasilan yaitu:
Pertama pada saat penjualan barang atau jasa. Bila penjualan barang dan jasa sudah tersedia dan dapat diukur secara pasti, maka metode ini dapat diterapkan. Contoh pada lembaga perbankan ketika memberikan kredit, maka saat komitmen direalisasi seluruh pendapatan non bunga (provisi, administrasi, biaya transaksi dll) dari kredit tersebut langsung dicatat sebagai pendapatan.
Kedua adalah pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum melakukan penjualan. Metode ini dapat digunakan kalau pemasaran barang dan jasa sudah terjamin misalnya sudah adanya kontrak/perjanjian tertentu dengan pihak lain, kemudian harganya sudah relatif pasti dan sebagian besar kegiatan untuk memperoleh penghasilan dimaksud sudah dilaksanakan. Contoh dalam transaksi call option.
Ketiga adalah pengakuan penghasilan didasarkan pada saat penerimaan kas. Metode ini dapat dilakukan kalau resiko terjadinya piutang tidak tertagih atau jangka waktunya relatif lama. Metode ini digunakan bank terutama bila mengakui pendapatan bunga yang berasal dari kredit bermasalah atau bahkan macet. Untuk kredit macet, pendapatan bunga tidak akan diakui menjadi rekening nominal (pendapatan bunga) sebelum benar-benar direalisasi.
- Prinsip Mempertemukan Pendapatan dan Biaya
- Prinsip Obyektif.
- Prinsip Pengungkapan Penuh.
Prinsip ini mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut harus mempunyai daya banding.
- Prinsip Konsistensi
- Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi
Konsep dasar akuntansi antara lain meliputi:
- Kesatuan Usaha
- Kesinambungan / going concern
- Periode Akuntansi
- Pengukuran Dalam Nilai Uang
- Penetapan Beban dan Pendapatan
- Kendala atau Keterbatasan Akuntansi
- Azas manfaat dan Biaya
- Azas Materialitas.
Kesulitan mengukur materialitas menjadi kendala, mengingat materialitas sangat
tergantung pada pemakainya. Dengan demikian perlu adanya batasan bahwa suatu item dalam hubungannya dengan laporan keuangan dianggap material kalau mempunyai akibat-akibat yang cukup berarti dalam pengambilan keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan laporan keuangan tersebut. Di sini harus dipahami bahwa item/transaksi dianggap material itu tidak dapat ditentukan atau diukur hanya berdasarkan item itu sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan item yang lain yang saling berhubungan.
- Azas Konservatif
Dalam kaitannya dengan pengakuan dan penilaian pada azas ini terdapat empat macam yaitu:
- Pengakuan dan penilaian penghasilan. Dalam hal ini penghasilan harus diakui pada saat realisasinya. Penghasilan adalah setiap nilai yang menambah aktiva. Untuk itu sangat erat dengan penilaian aktiva yang tidak boleh melebihi harga perolehannya. Dengan demikian penghasilan tidak boleh diantisipasi terlalu besar atau terlalu kecil.
- Dalam hubungannya dengan pengakuan biaya, maka biaya harus dibebankan pada periode akuntansi sesuai dengan periode pengakuan penghasilan yang diperoleh dengan biaya tersebut.
- Dalam hubungannya dengan laba, maka laba harus diakui pada saat realisasi.
- Dalam hubungannya dengan pengakuan kerugian, menurut asas ini bahwa perusahaan harus sudah mengakui semua kerugian dan hutang yang diketahui baik yang sudah pasti maupun yang belum pasti. Dalam hal terjadinya hutang ataupun kerugian yang belum pasti maka disebut hutang taksiran yang biasanya ditampung dalam rekening kontijensi.
- Kebiasaan-kebiasaan Dalam Dunia Bisnis
- Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan
Hak = Kewajiban
Aktiva = Pasiva
Kewajiban bank terdiri dari kewajiban terhadap pihak eksternal dan kewajiban terhadap pihak internal. Kewajiban kepada pihak eksternal adalah kewajiban kepada kreditor atau pemberi dana atau deposan. Sedangkan kewajiban terhadap internal adalah kewajiban kepada pemilik modal. Dengan demikian persamaan dapat diperluas menjadi:
Aktiva = Hutang + Modal
Bila bank melakukan aktivitas, akan memperoleh pendapatan dan mengeluarkan biaya. Selisih Pendapatan dengan biaya merupakan laba bank. Laba bank merupakan komponen modal bank. Untuk itu persamaannya menjadi:
Aktiva = Hutang + Modal + Pendapatan – Biaya
Atau,
Aktiva + Biaya = Hutang + Modal + Pendapatan
Keterangan:
Pada sisi kiri terdapat aktiva dan biaya, sedangkan pada sisi kanan terdapat Hutang, Modal dan Pendapatan. Persamaan ini akan mempermudah bagi pemula dalam membuat jurnal.
Dengan persamaan dan penggambaran rekening buku besar, maka dapat disimpulkan bahwa:
- Setiap pertambahan aktiva akan didebet, dan pengurangan aktiva akan dikredit.
- Setiap pertambahan biaya akan didebet, setiap pengurangan biaya akan dikredit.
- Setiap peningkatan hutang akan dikredit dan setiap pengurangan/pelunasan hutang akan didebet.
- Setiap pertambahan modal akan dikredit dan penurunan modal akan didebet.
- Setiap pertambahan pendapatan bank akan dikredit dan setiap penurunan pendapatan akan didebet.
- Sistematika Rekening Bank
Contoh secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
1 0 6 2 1
Keterangan:
Mulai dari kiri 1 = Aktiva
0 = Aktiva Dalam Rupiah
6 = Kredit yang Diberikan
2 = Pihak Tidak Terkait Dengan Bank
1 = Rekening Individual
Pengelompokan rekening selanjutnya didasarkan pada sifat dan fungsi rekening. Pengelompokan ini dimaksudkan agar dapat menggambarkan posisi aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, beban, komitmen dan kontijensi.
"Thank you for nice information
BalasHapusPlease visit our website unimuda and uhamka"